Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Simposium Kebangsaan MN KAHMI Harapkan Mahasiswa Bisa Jadi Penyuluh Petani

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Presidium MN KAHMI Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H dalam sambutannya pada Simposium Kebangsaan dengan tema, “Pangan, Kebangsaan, dan Ketahanan Nasional” di Hotel Sahid Jakarta, Jum’at (21/12/2018) mengutip cerita dari sejarah Mesir Kuno, tepat saat Raja Fir’aun galau karena mimpinya yang ia pertanyakan kepada Yusuf ternyata memiliki makna ‘bertanamlah’. Dijelaskan Hamdan, cerita Fir’aun tersebut menggambarkan tugas bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan pangan hari ini.

Pada acara yang digelar oleh Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) tersebut Hamdan mengatakan, tantangan yang begitu kompleks perlu ditangani mulai aspek ketersediaan, keterjangkauan dan kebermanfaatan. “Melihat kondisi masih pada perdebatan ketersediaan pangan tentang Indonesia melakukan impor produk, sedikit produksi hasil pertanian akan semakin banyak masalah yang muncul, saat terus menerus terjadi peningkatan konsumsi terhadap suatu produk, namun jika Indonesia tidak meningkatkan kegiatan produksi maka sampai kapanpun kita akan terus melakukan impor,” Kata Hamdan.

Hamdan menyambut baik kehadiran KAHMI se-Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan Mianga hingga Pulau Rote pada acara yang juga dihadiri oleh para praktisi ekonomi, pangan, politik tersebut. Acara yang juga dihadiri oleh staf kementerian Republik Indonesia yang tergabung menjadi bagian dari KAHMI diharapkan bisa memberi solusi dari permasalahan pangan yang dikaitkan dengan aspek persoalan kebangsaan dan ketahanan nasional.

Rektor IPB yang juga Praktisi pendidikan Arif Satria menyoal permasalahan Bangsa yang akan mengalami krisis petani, sehingga aspek pertanian harus dibicarakan secara serius untuk dipersiapkan dan bisa menghasilkan para petani yang mampu menjadi socialpreneur. “Langkah sederhana yang mampu dilakukan adalah dengan menjadikan para mahasiswa sebagai seorang penyuluh bagi para petani di desa dari hasil didikan Lembaga Pendidikan bidang pertanian untuk membina dan membantu menyelesaikan persoalan dari akarnya,” Kata Arif.

Dicontohkan Arif, IPB hari ini mulai memikirkan kurikulum yang tidak hanya tentang persoalan bagaimana IPK besar, tapi juga akan menghasilkan para mahasiswa yang tidak hanya pintar tapi harus menjadi seorang aktivis. “Mahasiswa juga harus merasakan bagaimana menjadi pemimpin dan mampu menyelesaikan konflik yang ada, minimal di lingkup kampus,” pesannya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *