Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, Miliki Segudang Prestasi dan Penuh Kontroversi

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Partai Gerakan Indonesia Raya atau yang lebih dikenal dengan Partai Gerindra resmi mengusung Mayjen TNI (Purn) Sudrajat sebagai Calon Gubernur Jawa Barat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 mendatang. Penunjukan pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 04 Februari 1949 ini membuat peta politik di Pilkada Jabar menggeliat.

Banyak yang terlonjak karena pilihan Gerindra yang tidak seperti prediksi awal. Ketika nama Sudrajat mengemuka, pengamat politik, masyarakat luar Jawa Barat, hingga masyarakat Sunda secara keseluruhan pun mahfum. Mengingat sosok Sudrajat sudah cukup dikenal dan dengan segudang prestasi yang memang pantas menjadi seorang pemimpin di Jawa Barat.

Sudrajat merupakan lulusan Akademi Militer pada 1971. Sebelumnya Sudrajat memang tak banyak dikenal. Akan tetapi, semasa masih aktif dia memiliki banyak kontroversi. Dia pernah menjabat Kapuspen TNI pada tahun 1999 yang kemudian dicopot oleh Presiden Abdurrahman Wahid dan digantikan Marsekal Muda Graito Usodo. Semasa menjabat Kapuspen, Sudrajat dikenal sebagai salah seorang perwira yang menentang ide Pangdam Wirabuana Mayjen Agus Wirahadikusumah tentang pengurangan jumlah Komando Daerah Militer (Kodam) di Indonesia.

Sudrajat menyebut usulan Agus dan otokritik lain merupakan bentuk pelanggaran kode etik. Sudrajat juga terkesan berseberangan dengan Panglima TNI kala itu Laksamana TNI Widodo AS yang merupakan Panglima TNI pertama yang bukan berasal dari Angkatan Darat. Selain berkonflik dengan atasannya di TNI, Sudrajat juga diketahui berselisih pendapat dengan Presiden Gus Dur pasca-pencopotan dirinya sebagai Kapuspen TNI. Perkara ini ditenggarai soal pendapat Gus Dur yang menyitir UUD 1945 yang menyebut Presiden adalah penguasa tertinggi AD, AL, AU dan Kepolisian.

Sudrajat1Pernyataan Gus Dur ditepis Sudrajat, ia mengatakan pasal di UUD itu tidak serta merta diartikan Presiden adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata. Agus Wirahadikusuma, dikutip dari buku Gus Dur, Militer dan Politik, karya Malik Haramain (LKiS, 2004; hal 238), mengomentari pernyataan Sudrajat: “[…] Dia tidak memahami rambu-rambu profesionalitas tentara. Dalam tataran demokratis, tentara itu tidak bisa mengkritik dan menyalahkan Presidennya. Dan, dia hanya Kapuspen, kalau perlu diserahkan saja pada panglima melalui jalur semestinya, jangan lewat publik.”

Selepas dicopot Gus Dur, Sudrajat menjabat sebagai Staf Ahli Panglima TNI bidang Ekonomi. Kemudian dia diangkat menjadi Direktur Jenderal Strategi Pertahanan di Kementerian Pertahanan pada 2003, dan pensiun pada 2005. Pensiun dari Kemenhan, Sudrajat kemudian menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat China. Pada 2006, Sudrajat dipersoalkan Ali Mochtar Ngabalin dan 11 anggota DPR lantaran Sudrajat cuek dan lebih memilih menemani Menteri BUMN Sugiharto saat melawat ke negeri tirai bambu.

Pada masa menjabat Dubes, Kedubes China disidik Kejaksaan Agung atas dugaan korupsi pungutan biaya kawat kepada pemohon visa, paspor, serta Surat Perjalanan Laksana Paspor di KBRI Beijing pada 2000 hingga 2004. Kala itu, Sudrajat mempersilakan Kejagung mengusut tuntas kasus tersebut yang akhirnya menyeret Kuntara selaku mantan Dubes RI sebagai pesakitan di kasus tersebut.

Sudrajat akhirnya pensiun pada 27 November 2009, setelah bertugas 3 tahun 11 bulan di Tiongkok. Selepas menjadi Dubes, Sudrajat tak banyak muncul dalam pemberitaan. Sepak terjangnya Sudrajat di dunia politik sudah tidak lagi terdengar. Sudrajat kembali muncul saat menjadi deklarator organisasi masyarakat Nasional Demokrat, yang diinisiasi Surya Paloh pada tahun 2010. Sudrajat kemudian mengemban tugas sebagai Ketua DPW Ormas NasDem Jawa Barat sebelum akhirnya memutuskan mundur setelah ada Partai NasDem. “Ormas NasDem terganggu dengan Partai NasDem. Saya tidak bisa melanjutkan kepemimpinan saya karena ada pendaftaran Partai NasDem. Saya memimpin NasDem dengan harapan agar semua orang bisa masuk karena awalnya memang untuk ormas,” kata Sudrajat, Jumat 8 Juli 2011.

Selepas mundur dari NasDem, Sudrajat tak banyak diketahui publik. Namanya kemudian muncul pada 2014 lantaran disebut Indonesia Tanpa Militer (ITM) sebagai salah seorang jenderal yang mendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2014 silam. Sudrajat kemudian kembali ‘tenggelam’ dari pemberitaan media. Baru setelah Susi Pudjiastuti diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, nama Sudrajat kembali muncul. Dia dipercaya Susi sebagai Chief Executive Officer Susi Air, maskapai milik Susi. “Saya mau titipkan Susi Air kepada manajemen baru yakni Mayjen (Purn) Sudrajat. Beliau akan jadi CEO Susi Air yang baru,” kata Susi kala itu.

Tiga tahun tak banyak muncul di media, Sudrajat muncul kembali pada Kamis malam, 7 Desember 2017. Kali ini, namanya digadang menjadi calon gubernur dalam Pilkada Jabar 2017. Pria asal Sumedang itu tiba-tiba menyambangi kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor. Dan memang, pensiun tak lantas membuat seorang Sudrajat berdiam diri dan membiarkan saja orang lain mengurus negara.

Suami dari drg. Sally Salziah, Sp.OM., ini pernah tercatat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok serta tetap aktif berorganisasi. Kiprah Sudrajat di militer termasuk cemerlang. Pria kelahiran Sumedang itu sudah menduduki berbagai jabatan, termasuk Kapuspen TNI Departemen Pertahanan, jabatan terakhirnya di Kementerian Pertahanan adalah Dirjen Strategi Pertahanan.

Sudrajat lulus dari Akademi Militer pada 1971. Ia mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan seperti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Lemhanas, beberapa pendidikan militer di Australia dan Amerika Serikat. Sudrajat juga memperoleh gelar Master of Public Administration (MPA) dari Harvard University, Amerika Serikat.

Pada saat menjabat Dirjen Strategi Pertahanan, Sudrajat pernah ditugaskan untuk memimpin beberapa konferensi Internasional. Ia menjadi aktor di belakang kerja sama antara Indonesia dengan beberapa negara sahabat meliputi Australia, Amerika, ASEAN, dan Tiongkok.

Sederet penghargaan pun pernah diterima Sudrajat terkait tugasnya sebagai anggota TNI. Ayah dua anak, Angki Arrihan dan Pasha Prakasa ini dianugerahi medali PBB untuk penjaga perdamaian di Mesir serta Legion Merit, AS untuk peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sudrajat juga pernah bertugas di ranah diplomatik, antara lain menjadi Atase Pertahanan KBRI London di Inggris (1994-1997) serta Atase Pertahanan KBRI Washington di Amerika Serikat (1997-1998). Puncak karier diplomatik dicapainya saat dia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Tiongkok pada 2005 hingga 2009.

BIODATA RINGKAS

Biodata Mayjen TNI (Purn.) Sudrajat:
Lahir: 4 Februari 1949, Sumedang, Jawa Barat
Istri: drg. Sally Salziah, Sp.OM
Anak: Angki Arrihan, Pasha Prakasa
Alma mater: Akademi Militer (1971)
Agama: Islam

Dinas militer:
Pengabdian: Indonesia
Dinas/cabang: TNI Angkatan Darat
Masa dinas: 1971 – 2005

II. PENDIDIKAN UMUM

Setelah menamatkan Sekolah Teknik Menengah, lulus seleksi memasuki Akademi Militer di
Magelang. Ketika berpangkat Letnan Kolonel, mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk mengikuti program master bidang Administrasi Publik di Harvard University, USA.

1. Sekolah Dasar 1961 Bandung
2. Sekolah Menengah Pertama 1964 Bandung
3. Sekolah Teknik Menengah 1967 Bandung
4. Master in Public Administration 1993, Harvard University, USA

III. PENDIDIKAN MILITER

Selain berbagai pelatihan militer di Indonesia, juga mengikuti beberapa program international di luar negeri, seperti Australia dan USA.

1. Akademi Militer Magelang 1971
2. Officer Basic Course 1973 Australia
3. Pelatihan Promosi Perwira Komunikasi 1976
4. Pelatihan Komandan Kompi 1977
5. Officer Advance Course 1979 USA
6. SESKOAD (Army General Staff College) 1989
7. Lemhanas 2001

IV. PANGKAT KEMILITERAN

Lulus Akademi Militer Magelang tahun 1971 sebagai Letnan dua, dan pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal pada tahun 2005.

1. Letnan Dua December 1, 1971
2. Letnan Satu April 1, 1974
3. Kapten April 1, 1977
4. Mayor April 1, 1982
5. Letnan Kolonel October 1, 1986
6. Kolonel April 1, 1995
7. Brigadir Jenderal April 1, 1997
8. Mayor Jenderal September 1, 1999
9. Pensiun March 1, 2004

V. KARIR PENUGASAN

Selain berbagai penugasan di TNI, beberapa kali dikirim ke luar negeri. Dua kali ke USA, pertama sebagai Pembantu Atase Pertahanan, dan kedua sebagai Atase pertahanan. Di Inggris sebagai Atase Pertahanan. Penugasan terakhir adalah Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia, berkedudukan di Beijing.

1. Pimpinan Pleton December 1, 1971
2. Komandan Kompi January 1, 1973
3. Perwira Teknik, Batalion Indonesia, UNEF, Mesir 1974 -1975
4. Komandan Kompi Brigade Udara April 1, 1976
5. Pbu. Atase Pertahanan, Washington , USA August 1, 1980
6. Kepala Biro Amerikan, Departemen Pertahanan August 1, 1983
7. Sekretaris Penglima TNI September 1, 1983
8. Perwira Menengah Perencanaan Strategis January 1, 1988
9. Staff Pimpinan Perencanaan Strategis September 1, 1988
10. Atase Pertahanan, KBRI London June 1, 1994
11. Atase Pertahanan, KBRI Washington March 1, 1997
12. Kapuspen TNI, Departemen Pertahanan January 1, 1999
13. Staf Ahli Panglima TNI January 1, 2000
14. Dirjen Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan February 1, 2001
15. Duta Besar untuk China & Mongolia (credential: March 15, 2006) November 11, 2005
16. Wakil Ketua, LIC, Lembaga Kerjasama Ekonomy, Sosial, Budaya Indonesia ?” China July 10, 2012

VI. KONFERENSI INTERNASIONAL

Pada saat menjabat Dirjen Strategi Pertahanan, juga ditugaskan untuk memimpin beberapa
konferensi Internasional yang merupakan kerjasama antara Indonesia dengan beberapa
negara sahabat meliputi Australia, Amerika, ASEAN, China.

1. Wakil Ketua Forum Strategis Tahunan Indonesia ?” Australia, Jakarta ?” Canberra, 2001 – 2004
2. Wakil Ketua Dialog Pertahanan Tahunan Indonesia ?” USA, Jakarta dan Washington DC, 2002 – 2004
3. Ketua Forum Strategi Pertahanan Regional ASEAN, Jakarta, 2004
4. Ketua Konferensi Kebijakan Strategis ASEAN Regional Forum,, Beijing, China, 2004

VII. PENGHARGAAN

1. Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun.
2. Satya Lencana Kesetiaan XVI tahun.
3. Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun.
4. Santi Dharma Garuda VIII (untuk 1 tahun penugasan di Mesin sebagai Penjaga
Perdamaian PBB)
5. Medali PBB untuk Penjaga Perdamaian di Mesir
6. Satya Lencana Yudha Dharma Naraya
7. Legion Merit, USA (untuk peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan USA)
8. Bintang Yudha Dharma Pratama
9. Bintang Kartika Eka Paksi Pratama

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *