Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Cara Mengetahui dan Mengasah Bakat Anak

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Orangtua mana yang tidak senang bila anaknya memiliki bakat. Entah bakat menggambar, mewarnai, bernyanyi, atau bakat lainnya. Akan tetapi, sulit bagi orangtua untuk mengetahui bakat anaknya.

Psikolog, Nuzulia Rahma Tristinarum, mengatakan bakat adalah kemampuan bawaan yang perlu dilatih lagi untuk menghasilkan suatu kecakapan (skill) atau karya. Faktor yang membuat anak berbakat, diantaranya ‘bawaan’ sejak lahir, lingkungan dan diasah atau bimbingan.

Bakat ucap dia sebenarnya bisa dilihat sejak kecil. Biasanya anak yang berbakat pada suatu hal akan lebih mudah dan lebih baik dalam hal tersebut. Misal bakat melukis, maka akan terlihat anak lebih mudah melakukannya dan hasilnya lebih baik dari anak anak seusianya “Kalaupun waktu kecil belum terlihat bakatnya, sebagai orang tua tak perlu khawatir, bakat juga bisa baru terlihat pada saat remaja,” ujarnya kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Kemudian yang perlu dilakukan orang tua, mengobservasi anak, mendampingi anak sehingga bisa diketahui bakat dan minatnya. Jika sudah diketahui, orang tua dapat menjadi fasilitator anak agar bakat dan minat anak tidak sia sia dan bisa menjadi sebuah karya. “Menjadi fasilitator artinya memberikan anak fasilitas belajar, bereskplorasi dan bereksperimen. Boleh mendatangkan guru atau ke tempat tertentu asal anak senang dengan kegiatan tersebut,” ujarnya.

Jiwa Kompetisi
Selain itu, Psikolog yang akrab disapa Lia ini mengatakan anak juga bisa diajak mengikuti kompetisi untuk mengasah bakatnya. Kompetisi sebaiknya tidak diberikan pada anak di bawah 7 tahun. Sebaiknya sebelum anak diajarkan kompetisi, anak dikenalkan dan diajarkan dulu tentang kerjasama. Lalu diajak dialog tentang makna moral dari kompetisi.

Kompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain tetapi mengalahkan diri sendiri utk menjadi yang terbaik. “Kompetisi yang dilakukan dengan tepat dapat membuat kita mengetahui bakat dan minat. Karena dengan kompetisi anak jadi memahami apakah dia mampu melakukannya dan apakah suka melakukannya,” tambah Lia.

Lebih lanjut Lia mengatakan, hal yang perlu dilakukan orang tua sebelum mengikutkan anak dalam berkompetisi adalah menyesuaikan dengan usia dan mengajak dialog tentang makna kompetisi. “Kalaupun kalah, anak diberi pelukan dan tetap sampaikan walaupun kalah, ayah bunda tetap bangga sama abang/adek/nama anak, karena sudah berusaha memberikan yang terbaik,” ucap dia.

Sebaliknya jika menang maka perlu diberi pemahaman bahwa menang adalah baik namun yang jauh lebih baik adalah belajar dan menikmati semua proses perjuanganuntuk menang. “Menang adalah baik, bukan berarti yang kalah lebih buruk. Semua orang punya kelebihan dan kebaikannya masing masing. Fokus pada proses anak. Puji prosesnya bukan sekadar hasilnya,” ujarnya.

Untuk tahu bakat dan minat anak tidak selalu harus berkompetisi. Ajak anak menghasilkan karya. Misal melukis, ajak anak menghasilkan karya lukis. Bahkan anak dapat diajak kerjasama dengan yang lain untuk menghasilkan karya. Tak selalu harus kompetisi, bisa kolaborasi.

Kompetisi yang bisa diikuti anak adalah kompetisi sehat dan anak memang menyukai untuk melakukannya. Bukan paksaan, bukan demi pujian atau pengakuan orang tuanya. Sebaiknya jangan berfokus kompetisi terus. Kolaborasi jauh lebih baik untuk mengasah bakat dan minat anak

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *