Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Bolehkah Penderita Kolesterol Makan Telur Asin?

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Belakangan menu masakan yang dibaluri saus telur asin sangat digemari, berbagai jenis masakan dari ayam, ikan, hingga jamur semua terasa lebih nikmat jika dicocol saus telur asin nan gurih. Padahal di balik nikmatnya saus telur asin yang creamy menggoda itu ada bahaya kesehatan mengancam. Pasalnya, bukan hanya tinggi kolesterol, konsumsi telur asin juga akan memicu darah tinggi, dan berujung stroke.

Spesialis gizi klinis DR.dr.Samuel Oetoro,MS,SpGK(K) membenarkan hal itu. Menurutnya, sajian saus telur asin yang dibuat dari bagian kuning telurnya justru tinggi kolesterol. Tak hanya itu, kandungan garam dalam telur asin juga sangat berpotensi memicu darah tinggi yang berujung stroke. “Telur asin dapat menyebabkan darah tinggi, karena kandungan natriumnya (garam) lebih tinggi daripada telur bebek yang direbus biasa,” ujarnya, Rabu (16/01/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kandungan garam dalam telur bebek hanya 140 miligram (mg) per 100 gram telur. Sedangkan jika diasinkan, kadar garamnya akan meningkat menjadi 540 mg per 100 gram telur. Padahal, tubuh manusia hanya boleh mengonsumsi 2 gram (200 mg) per hari. “Biasanya orang makan sehari bisa dua butir telur asin, itu artinya jatah garam di tubuh sudah berlebihan,” ujarnya.

Selain menyebabkan darah tinggi, mengonsumsi terlalu banyak telur asin bisa menyebabkan meningkatnya kolesterol. Hal ini ditandai dengan ukuran kuning telur bebek yang lebih besar dibanding telur ayam. “Kalau kuningnya lebih besar, artinya kandungan kolesterol yang ada di kuning telur itu lebih banyak, dia (telur asin) sampai 230 mg, sementara kalau telur ayam hanya 160 mg. Padahal jatah kita makan kolesterol itu hanya 300 mg per hari (bagi yang kondisi kesehatannya baik). Tapi seseorang miliki kadar kolesterol dan darah tinggi tentunya harus dibatasi, maksimal hanya 200 mg per hari,” tuturnya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *