Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Warna Warni Kampung ‘Wisata Sampah’ di Lombok

taufiqurokhman.com (Mataram) – Pemandangan kumuh dan kesan jorok identik  dengan kondisi bantaran kali di Tanah Air. Pun dengan yang terjadi di sejumlah bantaran kali di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Stigma negatif ini coba diubah oleh warga Lingkungan Banjar Selaparang, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Adalah Aisyah Odist, seorang perempuan tangguh yang berhasil ‘menyulap’ kampungnya yang dulu kumuh menjadi destinasi wisata yang layak dikunjungi bernama Kawis Krisant.

Kawis Krisant-1Perempuan kelahiran 17 Juni 1976 ini menggerakan warga bahu-membahu mengubah wajah kampungnya yang berada di bantaran Kali Jangkuk. Tak sekadar kampung warna-warni dengan lukisan yang menghiasi dinding di rumah warga. Ornamen-ornamen yang terlihat di kampung ini rupanya berasal dari sampah. Dengan penuh semangat, Odist mengajak sekitar 150 kepala keluarga di dua rukun tetangga (RT) yang ada di kampung untuk bersama-sama mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomi. Tak hanya itu, Kawis Krisant juga telah dikunjungi oleh 172 wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Konsep sebuah kampung yang dicat dengan aneka warna memang sedang menjadi trend di Indonesia belakangan ini. Dulu saya hanya bisa melihatnya di foto teman-teman yang berkunjung langsung ke kampung-kampung warna warni tersebut, sambil membayangkan andai saja di Lombok dibuat pula yang demikian. Sayangnya saya hanya bisa membayangkan, tidak bergerak apalagi mewujudkannya. Tidak seperti apa yang dikerjakan oleh Kak Aisyah Odist, di tangannya, kampung warna warni yang selama ini kita inginkan hadir di Lombok pun terwujud. Kampung penuh warna itu diberi nama Kawis Krisant.

Kawis Krisant-2Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu atau lebih akrab dikenal dengan nama Kawis Krisant adalah sebuah kampung wisata yang terletak di Lombok. Tepatnya di belakang Bank Sampah NTB Mandiri, yaitu di JL. Leo No.24 Lingkungan Banjar Selaparang Ampenan, Pejeruk, Ampenan, NTB.

Kawis Krisant didirikan oleh Kak Aisyah Odist, yang juga merupakan pimpinan dari Bank Sampah NTB Mandiri. Berawal dari keresahan Kak Aisyah akan situasi lingkungan sekitarnya yang masih juga kumuh, serta keinginannya agar adik-adik dan para pemuda di sana mempunyai semangat yang sama untuk memberdayakan kampungnya. Bagaimana agar kampung tempat tinggal mereka tersebut menjadi bersih, nyaman, menyenangkan dan layak untuk dikunjungi. Karena kampung ini terletak persis di belakang Bank Sampah NTB Mandiri yang dipimpinnya, Kak Aisyah merasa bertanggung jawab untuk memberikan edukasi terkait kebersihan lingkungan bagi masyarakat sekitarnya.

Berawal dari niat baik itulah, bungsu dari 11 bersaudara ini kemudian mulai mengajak para pemuda di sana untuk menata kampung kumuh yang sekarang telah menjelma sebagai sebuah kampung wisata bernama Kawis Krisant. Lewat akun media sosial Kak Aisyah Odist, saya melihat betul bagaimana semangat di balik berdirinya Kawis Krisant. Tentang proses pengecatan yang tersendat, warga kampung yang harus pelan-pelan diberi edukasi, dana pengelolaan kampung yang terkadang masih mengais dari kantong sendiri dan masih banyak lagi.

Tapi yang namanya niat baik, selalu saja akan dipertemukan dengan jalan yang baik. Satu persatu permasalahan tersebut pun teratasi. Jika dibandingkan saat pertama kali ke sana, kini Kawis Krisant semakin penuh warna saja. Alhamdulillah, bantuan cat datang dari mana saja. Warga pun semakin semangat mewarnai tembok-tembok dan lingkungan sekitar rumahnya.

Kawis Krisant-3Kawis Krisant, Kampung Wisata Penuh Warna di Lombok. Kalimat tersebut memiliki dua makna. Pertama, karena memang saat teman-teman masuk ke kampung wisata ini akan disambut dengan tampilan cat tembok pun jalanannya yang berwarna-warni alias penuh warna. Tujuannya mungkin agar terlihat menarik di mata wisatawan, juga di mata warga kampung itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang lokasi foto-fotoan yang instagramable adalah koentji! Wahahahaha. Makna selanjutnya yaitu karena benar, Kawis Krisant adalah kampung wisata yang penuh warna. Warna keceriaan, kebahagiaan, semangat untuk menanamkan pola hidup bersih, semangat untuk tidak henti belajar dan masih banyak lagi. Benar-benar penuh warna, bukan?

Di tempat lain mungkin ada banyak kampung penuh warna seperti ini. Kalaupun mau, dengan bermodalkan cat aneka warna dan orang-orang yang bersedia mengecat, maka teman-teman bisa menyulap kampung tempat tinggal kalian menjadi sebuah kampung kreatif yang baru. Ya kan? Tapi apa yang berbeda jika tidak ada bahan pembelajaran di dalamnya?Bagi saya, Kawis Krisant menjawab itu semua. Penuh warna dalam arti sebenarnya, pun dalam arti yang semua orang impikan. Yaitu menjadi kampung wisata yang tidak hanya memberi manfaat bagi warganya, tetapi juga bagi siapapun yang berkunjung ke sana.

Kawis Krisant-4Di tempat ini, saya menemukan generasi muda yang tidak biasa. Semangat berkreativitasnya tidak bisa dilawan. Satu prestasi terbaiknya di awal adalah ketika mereka membuat miniatur masjid dari kumpulan ribuan botol plastik bekas. Ah, mungkin mereka juga sudah lupa bagaimana menjadi anak “nakal”. Kak Aisyah telat membuat mereka “terjebak” pada kegiatan lain, yang bisa dikatakan lebih baik. Mereka yang kini disebut sebagai satgas Kawis Krisant sudah akrab dengan aktivitas menghias kampungnya, memandu para wisatawan yang datang berkunjung dan masih banyak lagi.

dariberbagaisumber

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *