Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Utang Pemerintah Jokowi Capai Rp. 4.034 triliun….?

Taufiqurokhman.com – Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla ternyata tetap menjadikan pinjaman luar negeri menjadi salah satu strategi mempercepat program uanggulan untuk membangun infrastruktur di Indonesia.

Menurut Dr. Taufiqurokhman, M.SI dosen Universitas Prof. Dr, Moestopo Beragama merasa kaget dan terperangah. Ternyata utang pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla jumlahnya sangat fantastis, yaitu besar Rp. 4.034 triliun. Jumlahnya sangat besar.

Photo: Dr. Taufiqurokhman, Saat menjadi Nara Sumber
Taufiqurokhman: Strategy Pemerintah Joko Widodo ternyata masih menyandarkan Utang Luar Negeri

Berapa besar Hutang Indonesia ke Luar Negeri, per Januairi 201 ternyata Pemerintahan Joko Widodo memiliki Hutang sebesar USD 308,05 atau setara dengan Rp. 4.034 triliun. Hutang ini terdiri dari dua, hutang pemerintah dan Bank Centra; sebesar USD 138,347 miliar serta Hutang luar negeri swasta sebesar USD 164,649 miliar.

Sumber Utang paling tidak menurut Taufiqurokhman ada tiga sumber, pertama pinjaman dari negara internasional sebesar USD 176,171 miliar, organisasi internasional USD 28,967 miliar dan diluar ini ada sebesar USD 102,911 miliar.

Menurut Taufiqurokhman dilihat dari Sumber Keuangan Indonesia, Negara Singapura saja memberikan pinjaman sebesar Rp 721,16 triliun atau sekitar USD 55,098. Disusul dari Jepang USD 31,554 miliar dan China USD 13,64 miliar.

“Total utang Indonesia ke IMF mencapai USD 2,738 miliar serta beberapa organisasi internasional lainnya hingga total utang dari organisasi internasional ini mencapai USD 28,967 miliar,” terang Taufik.

Bank Pembangunan China Pinjami RI Rp. 40 triliun

Langkah pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang mengaggertkan lagi adalah, ketika hari ini BUMN menggunakan tiga bank pemerintah, yaitu Bank Mandiri, Bank BRI dan BNI meminjam ke Bank Pembangunan China sebesar Rp. 40 triliun atau sekitar USD 3 miliar.

“Sungguh sangat berani langkah BUMN terhadap langkah ini, yang alasanya untuk membantu memperlacar pelaksanaan infrstruktur yangf menajdi Program unggulan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla,” jelas Taufik

Menurut Bos Bank Mandiri, Budi menjelaskan, pinjaman tersebut diperlukan mengingat kebutuhan pembangunan infrastruktur di dalam negeri sangat besar. Sementara likuiditas perbankan untuk penyaluran kredit sangat terbatas, termasuk Bank Mandiri.

Pinjaman untuk Bank Mandiri memiliki tenor 10 tahun yang dibagi atas dua mata uang, yakni USD 700 juta dan RMB 300 juta. Dengan bunga masing-masing 2,85 persen dan 3,3 persen atau masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga sebelumnya 5,61 persen.

“Tujuan penggunaan fasilitas untuk pembangunan infrastruktur dan industri di Indonesia dan mendorong perdagangan Indonesia dan China,” jelas Budi.

Sementara itu, untuk Bank BNI menerima pinjaman sebesar USD 1 miliar dengan komposisi untuk dolar AS dan remimbi adalah 70:30. Bunga untuk masing-masing mata uang adalah 2,85 persen dan 3,3 persen.

Dan untuk BRI melakukan pinjaman yang diterima adalah USD 1 miliar dengan tenor 10 tahun. Bunga yang diberikan 3,4 persen dengan grace period selama tiga tahun.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si merupakan seorang mantan DPRD Banten. Kini beliau bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *