Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Soal Presidential Threshold, Peneliti LIPI Sebut Tak Masuk Logika

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, sikap pemerintah yang kekeuh ihwal penerapan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sebesar 20 persen kursi DPR dan 25 persen perolehan suara sah nasional di Pemilu 2019 mendatang, tak bisa masuk ke dalam logika.

Siti menuturkan, dalam pemilu yang digelar pada hari yang sama, membuat tak ada yang tahu hasil yang akan didapat dari partai politik tertentu. “Ini serentak. Siapapun tidak tahu, apakah partai si fulan dan si x akan merajai kursi di legilatif. Logikanya tak jalan ini, logikanya enggak dapet,” kata Siti, Minggu (18/6/2017).

Presidential Threshold 2019Ia pun mempertanyakan cara menghitung presidential threshold nantinya, apabila tetap diadakan dalam ajang pesta demokrasi tersebut. Karena tak mungkin jika masih mengacu kepada hasil Pemilu 2014.”Perkembangan politk itu kan cepat sekali dari 2014 ke 2019. Nah, kalau itu masih digunakan, bagaimana menghitungnya nanti?” cetusnya.

Menurutnya, penerapan presidential threshold di pemilu 2019 sudah sangat tidak relevan. Karena antara pemilu legislatif dan pemilu presiden dilaksanakan secara berbarengan. “Menurut saya sudah sangat tidak relevan dan signifikan untuk tetap memberikan ambang batas presiden atau presidential threshold itu,” tukasnya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *