Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Simposium Guru Besar dan Para Doktor HMI, Angkat Isu Kesenjangan Ekonomi

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Untuk pertama kalinya KAHMI menggelar Simposium Nasional Guru Besar dan Para Doktor 2017. Tema yang diusung adalah Membangun Negeri Memihaki Bangsa Sendiri yang berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu 14-15 November 2017. Pada Selasa, (14/11/2017) acara dibuka oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Menurut JK yang juga alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MHI) tahun 1960-an, saat ini yang sangat dibutuhkan adalah yang berada di KAHMI bisa memanfaatkan ilmu yang memang dibutuhkan oleh pemerintah. “Apa yang kita butuhkan saat ini adalah spirit produktivitas dan spirit enterpreneur demi meningkatkan produktivitas tersebut. Hanya itu yang bisa membawa negara ini adil dan makmur,” ujar JK di depan lebih dari 300 guru besar dan para doktor dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Simposium KAHMI-7Sementara itu Koordinator Presidum KAHMI, Mahfud MD mengatakan, simposium ini intinya adalah untuk memberi padangan bagaimana pembangunan tidak sekadar mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga pemerataan dan memperkecil ketimpangan sosial. “KAHMI punya ribuan profesor yang bekerja di perguruan tinggi, dan doktor-doktor yang bekerja di berbagai profesi. Simposium alumni HMI ini, adalah untuk memberi pandangan bagaimana pembangunan tidak sekadar mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi,” Jelas Mahfud.

Pada hari kedua yang dihelat di Gedung Nusantara V MPR RI, Jakarta, Rabu (15/11/2017), Ketua Panitia Pengarah Simposium yang juga peneliti senior LIPI Prof. Dr. Siti Zuhro mengangkat beberapa isu, antara lain kesenjangan sosial ekonomi, daya beli masyarakat yang menurun, hutang Indonesia yang sangat besar, juga tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Isu-isu ini
dipilih berangkat dari permasalahan kesenjangan sosial dan ekonomi dalam rangka menyongsong pembangunan Indonesia merdeka 100 tahun di 2045 mendatang. “Ada 6 subtema yang dalam hal ini dilihat interdisipliner, ada dilihat dari perspektif demokrasi, otonomi daerah dan birokrasi pemerintah, yang kedua isu mengenai subtema agama, ideologi, dan budaya. Yang ketiga itu pendidikan, yang keempat tentang ekonomi, kelima hukum dan HAM, keenam itu sains dan teknologi,” terang Siti.

Simposium KAHMI-6Menurut Siti Zuhro, subtema itu dikedepankan akan para alumni HMI bisa memberikan gagasan ide baru yang solutif dan implementatif. “Tentu kita harus berpihak pada bangsa sendiri karena tidak boleh kita bangsa yang sudah merdeka 72 tahun tapi merasa terjajah. Kita harus menggugat itu kalau memang itu yang kita rasakan,” lanjutnya sambil menjelaskan bahwa sebagian gagasan dan pemikiran guru besar dalam simposium tersebut, telah dituangkan dalam buku berjudul ‘Membangun Negeri Memihaki Bangsa Sendiri.

Dekan Fisip Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Dr. Taufiqurokhman, M.Si, mengatakan bahwa kegiatan simposium ini sangat baik dan sangat bermanfaat bagi para akademisi dan para praktisi yang ada di dalam alumni HMI. Alasannya adalah, karena HMI saat ini harus menunjukkan kepada Indonesia untuk menjawab tantangan bangsa Indonesia. “Konsep Islam moderat di tengah beberapa isu strategis, seperti kesenjangan ekonomi, hutang besar, dan daya beli yang melorot serta pemerataan pendidikan, para alumni harus mampu menjawab ini semua,” terang Dr. Taufiqurokhman.

Simposium KAHMI-5Lebih lanjut Dr. Taufiqurokhman mengatakan, sebenarnya jawabannya sudah diberikan oleh Prof. Dr. Muhajir Efendi yang pada saat presentasi mengatakan, pemerataan pendidikan bisa dilakukan dengan melakukan empat skala prioritas yang sudah ditetapkan oleh Mendiknas. “Skala prioritas yang disebut oleh Bapak Muhajir antara lain adalah diberlakukannya donasi pendidikan sehingga tidak terjadi penumpukan orang-orang atau elite yang berduit masuk di sekolah tertentu. Kedua penghapusan ujian nasional mengingat hal itu tidak bisa distandarisasi dan menggantinya dengan pendidikan bersifat karakter membangun bangsa dan karakter bagaimana peran keluarga mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjawab tantangan masa kini dan masa yang akan datang,” paparnya.

Menurut Dr. Taufiqurokhman, pada saat gala dinner, Wakil Presiden JK mengatakan, Indonesia membutuhkan pengusaha-pengusaha muda bumi putera yang mampu bekerja produktif dan bersama-sama pemerintah membangun bangsa. Kenapa demikian, karena dari 10 persen aset Indonesia, dikuasai oleh hanya 1,25 persen Indonesia. Dan selanjutnya, dari 70 persen aset Indonesia dikuasai oleh sekitar 10 persen saja orang Indonesia . “Hal ini sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia pada masa depan bila kondisi tersebut tidak mampu dirubah,” tegasnya.

Simposium KAHMI-2Oleh sebab itu, kata Dr. Taufiqurokhman acara simposium diharapkan bisa melahirkan pemikiran-pemikiran cerdas yang mampu menjawab tantangan bangsa Indonesia ke depannya. Mengingat, pada tahun 2018 mendatang juga akan dilaksanakan Pilkada serentak untuk memilih kepala daerah. “Kita ketahui, kepala daerah sangat penting peranannya pada masa mendatang. Karenanya, kepala daerah jangan sampai tersangkut oleh kasus-kasus korupsi atau pun dibiayai oleh para pengusaha-pengusaha yang ada saat ini. Karena ini bisa menyebabkan kaki mereka terikat, terbelenggu dengan cara mengembangkan usaha-usahanya di daerah tersebut. Akibatnya, banyak keputusan dan kebijakan yang nantinya tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

Turut hadir dalam acara simposium tersebut, Akbar Tanjung, Dr. Zulkifli Hasan dalam kapasistasnya sebagai Ketua MPR RI, Wakil Ketua MPR RI yang juga Ketua DPD RI Sapta Oesman Odang, Menteri Pendidikan Nasional Muhajir Efendi, dan lain-lain. Acara kemudian ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pada kesempatan itu, Anies mengatakan, para guru besar HMI dapat menjadi garda terdepan Indonesia di kalangan internasional. Pihaknya mengapresiasi simposium yang dibuat para guru besar HMI. Karena menurutnya, Indonesia pemain dunia dan dalam konteks itu para guru besar ini tidak kalah jauh, malah di atas rata-rata dunia sehingga mampu menjadi garda terdepan Indonesia di kancah Internasional,” kata Anies.

Simposium KAHMI-3Lebih jauh Anies mengatakan, dari segi intelektual, guru Indonesia tak kalah dari negara lain. Bahkan banyak tokoh bangsa guru besar negeri ini yang telah dipandang di kancah internasional. “Tradisi intelektual kita tidak kalah dengan negara lain. KH Agus Salim bisa menguasai 12 bahasa, bahkan kosakata bahasa Arabnya lebih baik dari ahli sastra Arab, Sukarno menguasai tujuh bahasa, dan masih banyak tokoh dan guru besar lainnya,” jelas Anies.

Menurut Anies, seorang guru tidak boleh menjadi tamu di negerinya sendiri, melainkan harus menjadi tuan rumah bagi bangsanya. Bagi Anies, pertanyaan terbesar adalah peran guru dalam memajukan bangsa ini. “Hari ini pertanyaan terbesar kita adalah bukan ‘who get what and how get much’, tapi ketika kita katakan memihak bangsa sendiri maka akan muncul seluruh aspek yang membangun bangsa ini. Persis seperti apa yang dikatakan Haji Agus Salim 100 tahun lalu, guru adalah tokoh untuk membangun negeri,” papar Anies.

rayu

Post Author
admin123
Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *