Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Ratko Mladic, Jagal yang Bantai Lebih dari 7000 Muslim Bosnia

taufiqurokhman.com (Serbia) – Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia Bosnia, dinyatakan bersalah melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan saat Perang Bosnia. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslvia, di Den Haag, hari Rabu (22/11/2017), yang menyatakan Mladic bersalah melakukan genosida terhadap Muslim Bosnia di Srebenica pada 1995.

Mahkamah juga menyatakan bahwa Jenderal Mladic bertanggungjawab karena secara langsung memerintahkan pengeboman terhadap kota Sarajevo. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup dalam kasus yang digambarkan hakim sebagai salah satu kejahanan paling biadab dalam sejarah umat manusia. Kekejaman yang dilakukan Mladic berawal pada 1992, ketika Muslim Bosnia dan warga Kroasia memilih merdeka dalam referendum yang diboikot oleh warga Kroasia.

Ratko Mladic1Yang terjadi kemudian adalah perang terbuka antara Muslim Bosnia dan Kroasia di satu sisi dan Serbia Bosnia di kubu lain. Bersama pemimpin politik Serbia, Radovan Karadzic, Mladic adalah tokoh kunci pembersihan etnik yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Peristiwa ini banyak digambarkan sebagai kekejaman terburuk di Eropa pasca-Perang Dunia. Mladic aktif hadir di berbagai garis depan dan membawahi tak kurang dari 180.000 tentara yang pada fase awal perang menguasai lebih dari 70% wilayah Bosnia.

Perang Brutal
Perang berlangsung brutal, termasuk pengepungan tanpa henti selama tiga tahun terhadap Sarajevo yang menyebabkan lebih dari 10.000 orang meninggal dunia. Juga pembantaian di Srebenica yang menewaskan lebih dari 7.000 laki-laki dan remaja Muslim Bosnia. Mereka dibantai dan mayat mereka dibuang begitu saja di sejumlah kuburan massal. Srebenica adalah wilayah yang didiami Muslim Bosnia, sekitar 80 km di utara Sarajevo, dan sebenarnya memiliki status daerah perlindungan PBB.

Pada 1995, tentara Mladic memasuki kota ini dan menangkap remaja dan ribuan laki-laki Muslim berusia antara 12 hingga 77 tahun. Dalam kurun lima hari, di satu lapangan di luar kota, lebih dari 7.000 Muslim Bosnia dieksekusi, dilaporkan dengan menggunakan senapan mesin, sebelum dibuang dengan menggunakan buldoser di kuburan-kuburan massal. Insiden ini disebut sebagai eksekusi massal paling kejam setelah kejahatan Nazi di Eropa pada Perang Dunia.

Perang berakhir tak lama sesudah pembantaian Srebenica ini. Ratusan ribu warga non-Serbia diusir dari rumah-rumah mereka dalam upaya untuk mendirikan negara Kroasia dan Bosnia yang murni dihuni oleh etnik Serbia saja. Bagi Mladic, perang ini ia anggap sebagai upaya untuk meneguhkan keberadaan negara Serbia. Ia melihat perang sebagai balas dendam terhadap pendudukan Muslim Turki selama lima abad. Ia menyebut Muslim Bosnia sebagai ‘orang-orang Turki’ sebagai bentuk penghinaan.

Ratko Mladic Tua
Ratco Mladic pada Usia Senja – Reuters

Hidup Jadi Buronan
Pada akhir 1995, mahkamah kejahatan perang PBB mendakwa Mladic melakukan dua genosida berupa pembantaian di Srebenica dan pengepungan Sarajevo. Sejumlah kombatan lain juga dikenai dakwaan kejahatan perang termasuk tentara Kroasia dan Bosnia. Mladic tak langsung ditangkap dan ia hidup sebagai buronan. Dalam status sebagai terdakwa, ia terang-terangandidukung dan didukung oleh Presiden Yugoslavia ketika itu, Slobodan Milosevic.

Ia dengan bebas bisa menikmati hidangan di restoran di Beograd dan dengan didampingi pengawal pribadi, ia bisa menonton pertandingan sepak bola. Jatuhnya Milosevic dari tampuk kekuasaan pada tahun 2000 yang diikuti
dengan penahanannya membuat Mladic tak leluasa tampil di depan umum. Dalam satu dekade berikutnya ia pindah dari satu persembunyian ke persembunyian lain di Serbia, dengan bantuan kelompok-kelompok kecil yang masih setia dengannya.

Ia ditangkap pada 26 Mei 2011 di satu rumah di Lazarevo. Ketika polisi memasuki rumahnya, Mladic yang pernah bersumpah tak akan menyerahkan diri dalam keadaan hidup-hidup, tak memberikan perlawanan sama sekali. Dua senjata berisi peluru yang ia siapkan untuk membela diri, tak ia sentuh. Ia ditangkap pada usia 69 tahun. Hilang sudah wajah tegar dan fisik yang
kuat akibat stroke. Lengan kanannya tak bisa digerakkan akibat stroke ini. “Jika mau, saya bisa menembak mati sepuluh polisi (yang akan menahan saya). Tapi mereka hanya perwira-perwira muda yang menjalankan tugas,” kata Mladic kepada tim polisi yang menahannya.

bbc-indonesia

Post Author
admin123
Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *