Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Praktisi Menolak Dukung Kecanduan Games Sebagai Gangguan Mental

taufiqurokhman.com (Jakarta) – World Health Organization (WHO) telah menggolongkan kecanduan games sebagai gangguan mental. Akan tetapi keputusan tersebut ditentang oleh sejumlah praktisi yang menilai penggolongan itu didasarkan atas riset yang lemah.

Menurut psikolog Andrew Przybylski, penggunaan terminologi ‘gaming disorder’ oleh WHO berlebihan karena gandrung pada gim lebih cocok disebut dengan ‘gaming addiction’ saja. Andrew merupakan psikolog dari Oxford Internet Institute yang aktif meneliti tentang games dan kesehatan mental. Dalam pandangannya, kriteria WHO tentang seseorang yang disebut kena gangguan mental akibat games masih terlalu luas.

Menurut psikolog Andrew Przybylski, penggunaan terminologi ‘gaming disorder’ oleh WHO berlebihan karena gandrung pada gim lebih cocok disebut dengan ‘gaming addiction’ saja. Andrew merupakan psikolog dari Oxford Internet Institute yang aktif meneliti tentang games dan kesehatan mental. Dalam pandangannya, kriteria WHO tentang seseorang yang disebut kena gangguan mental akibat games masih terlalu luas.

Berdasarkan definisi WHO, seorang pecandu games bisa disebut terkena gangguan mental apabila memenuhi beberapa kriteria. Kriteria tersebut yakni lebih suka bermain games daripada kegiatan lain, tidak berhenti main games walau kewajiban sehari-hari jadi kacau, punya relasi sosial buruk akibat games, dan tanda-tanda itu sudah berlangsung minimal selama setahun. “Jika syaratnya itu, maka Anda bisa dengan mudah mengganti kata games menjadi seks, makanan, atau menonton piala dunia,” katanya dilansir dari The Verge.

Menurutnya, orang tahu bagaimana opium dan nikotin menyebabkan kecanduan namun belum jelas apakah efek yang sama juga dihasilkan akibat sering bermain games. Sebutan ‘game disorder’ baginya tidak menjelaskan games atau fitur apa yang menyebabkan adiksi. Sehingga, lingkupnya masih terlalu luas untuk memperoleh penanganan khusus bagi mereka yang mengalaminya.

Peneliti kesehatan masyarakat khusus dampak teknologi di John Hopkins University, Michelle Colder Carras, ikut mengemukakan pendapatnya. Kendati di luar sana memang banyak orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu bermain gim, namun ada terapi umum yang bisa menyembuhkan. Terapi tersebut cenderung lebih ringan daripada terapi yang diberikan kepada pasien yang didiagnosis depresi atau kecemasan.

Baik Carras maupun Przybylski sama-sama tergabung dalam kelompok peneliti yang menulis surat kepada WHO. Pada 2016 lalu, mereka melayangkan surat kepada WHO yang intinya menolak pertimbangan lembaga tersebut memasukkan sebutan ‘gaming disorder’ sebagai gangguan mental. Alasan yang mendasari penolakan tersebut adalah karena belum ada konsensus dan studi memadai di area tersebut.

Para pakar yang menolak menyatakan studi yang sudah ada belum menyebut berapa banyak orang yang sedang berjuang di bawah ‘gaming disorder’. Selain itu, beberapa studi mengenai ‘gaming disorder’ menanyakan kepada para responden mengenai kecanduan internet atau kecanduan komputer. Dua hal tersebut tentu berbeda dengan kecanduan games.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *