Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Pentingnya Pendidikan dalam Penanggulangan Kemiskinan (Oleh Dr. Taufiqurokhman, M.Si.)

Patut kita syukuri bahwa sebagian besar masyarakat Banten telah menyadari peranan bidang pendidikan dalam berbagai upaya pembangunan daerah. Namun masih banyak pula kalangan yang merasa kurang yakin bahwa pendidikan bisa memegang peranan dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Agar peran bidang pendidikan dapat berperan dalam pembangunan, khususnya dalam penanggulangan kemiskinan, perlu disepakati kebijaksanaan dan sasaran yang tepat. Sasaran tersebut perlu diurai secara terperinci pada setiap wilayah dimana penduduk miskin berada. Kemudian perlu ditetapkan pula target yang jelas kapan penduduk miskin yang bersangkutan diharapkan dientaskan dari kemiskinan. Dengan sasaran dan target yang tepat itu berbagai tindakan dan langkah-langkah yang praktis dan pragmatis, sesuai kemampuan penduduk miskin yang bersangkutan, tentu dapat dilakukan.

Ada baiknya pendekatan praktis dan pragmatis itu didukung dengan berbagai pemberdayaan pada berbagai sektor dan bidang lainnya, misalnya sesuai dan mengacu pada strategi komprehensif Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh para Pemimpin Dunia pada Pertemuan Tingkat Tinggi PBB di New York pada sekitar tahun 2000 yang lalu.

Seperti kita ketahui pertemuan tingkat tinggi yang menyepakati MDGs itu merupakan kulminasi dari berbagai pertemuan internasional sebelumnya, yaitu pertemuan-pertemuan sektoral, baik dalam bidang kesehatan, kependudukan, pendidikan, keadilan dan kesetaraan gender, peranan perempuan, dan atau pertemuan pembangunan sosial yang lebih luas. Berbagai pertemuan itu sekaligus beriringan dengan perkembangan perhatian yang makin meluas tentang hak-hak azasi manusia atau human right. Maraknya berbagai pertemuan dengan arahan itu menempatkan upaya pemberdayaan manusia lebih demokratis dan memberi penghargaan kepada manusia secara utuh dalam jajaran yang terhormat.

Karena itu upaya penanggulangan kemiskinan secara komprehensif dan berkelanjutan dengan memberikan perhatian yang tinggi pada bidang pendidikan diharapkan menempatkan manusia tidak saja sebagai sasaran, tetapi lebih-lebih sebagai aktor yang sangat penting peranannya. Aktor, penduduk miskin ini harus mendapatkan motivasi yang tinggi untuk belajar dan bekerja keras. Program untuk menanggulangi kemiskinan bagi aktor-aktor yang tingkat pendidikan dan keadaan sosial ekonominya sangat rendah harus dirancang dengan menempatkan aktor yang bersangkutan sebagai titik sentral utamanya.

Namun perlu diperhatikan hal-hal yang biasanya menjadi kendala bagi daerah yang sedang berkembang seperti Banten. Seperti daerah berkembang lainnya, Banten untuk masa yang lama menghadapi empat hambatan besar dalam bidang pendidikan, pertama peninggalan penjajah dengan penduduk yang tingkat pendidikannya sangat rendah. Kedua, anggaran untuk bidang pendidikan yang kurang maksimal dan biasanya kalah bersaing dengan kebutuhan pembangunan bidang lainnya. Ketiga, anggaran itu biasanya diarahkan pada bidang-bidang yang justru kurang berpihak pada pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Dan keempat, karena anggaran yang belum maksimal, maka dalam pengelolaan pendidikan biasanya timbul pengelolaan yang tidak efisien dan efektif.

Karena alasan-alasan tersebut, walaupun Pemerintah saat ini menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat penting, tetapi selalu saja banyak pihak yang tidak puas dengan hasil-hasil yang dicapai. Misalnya kita ketahui bahwa segala usaha telah dilakukan untuk memacu dan memicu peningkatan fasilitas pendidikan di Banten.

Untuk masyarakat yang sangat miskin telah dilaksanakan Program Keluarga Harapan, yang fokus pada bidang pendidikan dankesehatan, belum lagi program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dan masih ada pula bentuk bantuan lain yang nampaknya sederhana tetapi menyedot anggaran yang cukup tinggi. Namun karena jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, kebutuhan tetap bertambah tinggi, termasuk untuk rehabilitasi gedung-gedung sekolah dan peralatannya.

Akhirnya banyak pihak merasa bahwa fasilitas sekolah di Banten pada saat ini masih jauh dari memadai. Padahal usaha Pemerintah baik pusat masupun daerah saat ini terasa telah jauh lebih baik dibanding beberapa waktu yang lalu. Kerisauan sebagian masyarakat akan fasilitas yang dianggap masih kurang memadai ini dianggap merupakan salah satu alasan kenapa Angka Partisipasi sekolah pada tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas masih relatif rendah.

Anak-anak usia SMP dan SMA yang jumlahnya membengkak duakali lipat dibandingkan dengan jumlah anak-anak pada tahun 1970-an terpaksa tidak mendapat tempat menurut pilihannya. Dalam banyak publikasi, kelemahan ini mendapat sorotan yang tajam dan luas. Tidak jarang, melalui gambar-gambar menyolok, gedung atau bagian gedung yang hampir ambruk dipajang oleh media elektronik maupun cetak secara menyolok dan dianggap sebagai malapetaka dan kesalahan Pemerintah.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, walaupun telah mendapatkan amanah dari konstitusi untuk menyediakan anggaran sebesar 20 persen pada bidang pendidikan, belum mampu memenuhi kewajiban tersebut secara penuh karena masih menimbang skala prioritas pembangunan pada sektor lain. Sementara itu masyarakat yang merasa bahwa kewajiban itu sebagai kewajiban pemerintah, tidak siap atau tidak memiliki inisiatif untuk mengambil alih peran tersebut, dan bersifat menunggu sampai pemerintah memperbaiki gedung yang tidak layak atau tidak aman untuk belajar.

Apabila kita semua ingin memberikan peran yang penting pada bidang pendidikan dalam menanggulangi kemiskinan, maka perlu segera dikembangkan komitmen dan langkah-langkah nyata agar anak-anak mendapat dukungan yang kuat untuk bersekolah pada sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan pada perguruan tinggi sesuai dengan pilihan dan kemampuannya.

Syarat lain yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa kualitas lulusan dari sekolah di Banten dapat diandalkan. Bukan saja mutu akademis agar seorang anak dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi, tetapi seorang anak, harus pula mempunyai ketrampilan praktis yang dapat dimanfaatkan seandainya yang bersangkutan tidak dapat melanjutkan pada pendidikan tinggi.

Apabila hal ini dapat diwujudkan, maka Pendidikan resmi di sekolah bisa menjadi salah satu upaya untuk memotong rantai kemiskinan. Pendekatan ini mensyaratkan bahwa pendidikan di dalam sekolah menyatu dengan pendidikan luar sekolah, atau mengembangkan sekolah tanpa dinding, sehingga anak-anak sekolah, terutama anak-anak usia SMA dan sederajat, bisa mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk mampu secara akademis, dan sekaligus mempunyai cukup ketrampilan untuk mampu sewaktu-waktu kembali ke masyarakat.

Anak-anak muda itu bisa kembali ke masyarakat untuk membuka usaha atau bekerja dalam rangka mengumpulkan biaya agar bisa secara mandiri membiayai pendidikan lanjutan yang dipilihnya. Pendidikan lanjutan, atau sekolah yang lebih tinggi, Perguruan Tinggi, harus dapat menampung anak-anak muda yang mandiri tersebut dalam lembaga Community College, dan dapat diakses oleh anak keluarga kurang mampu, secara bertahap pada waktu mereka makin mampu. Community College itu akan mengantar anak-anak muda yang mampu memotong rantai kemiskinan tersebut melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya.

Dari tulisan ini, sebenarnya dapat kita simpulkan bahwasanya peran pendidikan sebenarnya sangat penting dalam pengentasan kemiskinan. Untuk itu seluruh stakeholders di Banten harus memiliki komitmen yang sama dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *