Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Pengamat Pemerintahan: Politik Islam Rahmatan Lil’alamin

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Baru-baru ini Forum Silaturahmi Takmir Masjid se-Jakarta dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta mengeluarkan sikap penolakan atas politisasi Masjid. Hal tersebut dilakukan karena mereka menginginkan masjid kembali kepada fungsinya, yaitu sebagai rumah ibadah. Akan tetapi, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang saat ini menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar-Agama dan Peradaban Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, MA., mengatakan bahwa tidak masalah jika di masjid membicarakan politik.

Islam kata Din, mempunyai konsep yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk politik. Tidak seperti agama lainnya yang memisahkan antara politik dengan agama, dalam Islam justru keduanya tidak bisa dipisahkan. “Maka mengaitkan politik dengan agama adalah sesuatu yang menurut pandangan Islam baik dan benar,” ujar Din di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta.

Din meminta, jangan terlalu mudah untuk mengatakan umat Islam yang membicarakan politik di masjid dengan istilah Politisasi Agama. Umas Islam, katanya, lebih tepat dikatakan mongkontekstualisasi agama dalam perpolitikan masa kini. “Jangan mudah pakai istilah politisasi. Yang dilakukan sebagian umat Islam bukan politisasi agama tapi kontekstualisasi agama,” terang Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

Kendati demikian dia sendiri menolak fungsi masjid yang mengangkat/mengkampanyekan partai politik. Justru hal itu kata dia berpotensi merusak ukhuwah. “Tapi kalau masjid berbicara tentang pentingnya mengangkat kepemimpinan Islam, nilai-nilai Islam, itu bukan politisasi agama. Jangan digeneralisasi,” tegasnya.

Menyikapi hal tersebut di atas, Pengamat pemerintahan Dr. Taufiqurokhman, M.Si., mengatakan, politik Islam yang dimaksud adalah politik ‘Rahmatan lil alamin’ yang berarti politik kebaikan untuk semua umat beragama. “Artinya konsep Pilitik Islam yang menghormati adanya umat beragama lain yang hidup berdampingan secara damai,” jelasnya.

Lebih jauh Taufiqurokhman mengatakan, Islam mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dan saling menghormati satu sama lain. Oleh sebab itu, Taufiqurokhman mengajak seluruh komponen pemeluk beragama untuk bersama-sama membangun dan membesarkan bangsa dengan cara-cara ukhuwah Islamiah dan saling berbagi untuk membesarkan. “Jika ada sekelompok org yang sengaja menggembor-gemborkan isu-isu SARA terutama pada saat Pilkada di 177 provinsi, kabupaten, kota, maka patut dicurigai,” ujar Taufiqurokhman.

Dikatakannya, jika ada kegaduhan menyangkut soal pelaksana tugas dari kementerian salah satu kabinet Presiden Jokowi, maka patut dipertanyakan. Kenapa kok seorang menteri memberikan keputusan kegaduhan pada presiden. “Seharusnya menteri tersebut menyelesaikan masalah bukan malah memberi masalah baru pada Presiden Jokowi yang sudah terang dan jelas arahnya agar pilkada serentak ini agar sukses dan lancar serta berjalan dengan jujur dan berkeadikan,” lanjutnya.

Taufiqurokhman mengatakan, kita semua berharap bisa saling menghormati dan menghargai, bukan sebaliknya mencari sesuatu agar ada celah sehingga org lain bisa mengintervensi pelaksanaan Pilkada yang sedang dihadapi. “Saat ini politik Islam sedang diuji, khususnya pada masa pemerintahan Presiden Jokowi. Akankah bangsa Indonesia ke depan akan lebih maju atau terjebak dengan politik identitas yang selalu digaungkan oleh kelompok tertentu dengan target ingin memojokkan dan mempolitisasi Islam itu sendiri,” tegas Taufiqurokhman

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *