Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Panjang Umur Tak Hanya Ditentukan oleh Faktor Genetik

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Selama ini ada keyakinan di kalangan ilmuwan bahwa panjang umur seseorang banyak dipengaruhi oleh gen yang ia bawa. Artinya, panjang umur adalah sesuatu yang bersifat turun temurun. Namun studi teranyar yang dipublikasikan di jurnal Genetics pada Selasa (06/11/2018) tak sepenuhnya mendukung argumen tersebut.

Dari data genetik yang dikumpulkan di situs Ancestry, faktor gen rupanya tak punya pengaruh sebesar yang dikira. Alasannya, studi terdahulu tidak bisa menjelaskan bagaimana panjang umur bisa terjadi pada dua orang yang berpasangan seperti suami istri.

Studi terbaru dilakukan oleh Calico Life Science yang merupakan lembaga riset di bawah Alphabet Inc. Dalam sebuah populasi, setiap orang punya banyak perbedaan dengan orang lain misalnya tinggi badan, warna mata, dan lama hidup.

Studi terdahulu menyebut faktor keturunan punya kontribusi 30 persen pada orang yang panjang umur. Namun riset oleh Calico Life Science menyimpulkan faktor keturunan hanya punya pengaruh tujuh persen.

Dalam studinya, para peneliti menganalisis informasi dari 400 juta manusia menggunakan pohpn silsilah dari Ancestry. Karena peneliti ingin menganalisis lama hidup tiap individu, data diambil dari mereka yang lahir di era 1800-an atau awal 1900-an sampai waktu kematiannya.

Analisis awal mengungkap ketika membandingkan lama hidup antar saudara kandung atau antar sepupu pertama, faktor keturunan memegang kontribusi 20 sampai 30 persen. Kesimpulan ini sama dengan kesimpulan studi pendahulunya.

Akan tetapi, ternyata lama hidup pasangan juga cenderung mirip satu sama lain. Hal itu bisa terjadi lantaran mereka berdua tinggal di lingkungan yang sama. Mereka tinggal serumah, menyantap makanan yang sama, hingga punya waktu tidur yang sama. Faktor-faktor eksternal tersebut ikut memengaruhi lama hidup seseorang.

Lebih lanjut peneliti mendapati sesuatu yang makin menarik. Mereka melihat saudara ipar dan anak dari saudara kandung mertua juga punya lama hidup yang mirip. Padahal mereka bukan anggota keluarga yang tinggal serumah atau punya hubungan darah langsung.

Kondisi ini disebut ilmuwan dengan istilah assortative mating. Assortative mating adalah fenomena di mana seseorang memilih pasangan hidup yang cenderung mirip dengan dirinya. Ketua tim peneliti Graham Ruby dikutip dari Live Science mengatakan jika ada peran assortative mating, itu artinya lama hidup diri sendiri dan pasangan akan cenderung mirip. Karena itulah faktor genetis hanya berkontribusi kecil menentukan lama hidup seseorang.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *