Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Network Sharing Jadi Solusi Percepat Industri Digital

taufiqurokhman.com – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengatakan, dari elemen DNA (device, network, dan application), sektor yang tumbuh stagnan hanya jaringan (network). “Persoalannya karena business as usual, tidak ada terobosan apa-apa. Jadi perlu usaha meningkatkan affordability atau keterjangkauan,” ujar Chief RA, panggilan akrab Rudiantara, dalam seminar “Indonesia Digital Economy Forecast 2017: Sinergi Pelaku Industri Telko Untuk Peningkatan Efisiensi dan Daya Saing Ekonomi Indonesia” di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Lebih jauh Chief RA mengatakan, cara menurunkan biaya (cost) adalah melalui network sharing. “Dengan begitu, berbagi jaringan menjadi sebuah keniscayaan,” kata Rudiantara. Industri telekomunikasi nasional, lanjut dia, telah berkembang amat cepat dan memiliki multiplier effect yang sangat besar dan luas. “Mayoritas penduduk Indonesia, sekarang ini sangat tergantung pada perangkat telepon seluler yang sudah menjadi salah satu kebutuhan utama sehari-hari,” tambahnya.

Tentunya, lanjut Chief RA, merupakan kewajiban pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur telekomunikasi (serat optik) di luar jawa (palapa ring) serta meningkatkan jumlah dan pemakaian telepon dan kecepatan pengiriman data untuk peningkatan perekonomian dan sekaligus demi ketahanan nasional.

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, mengatakan, sebagian besar KPBU atas pembangunan infrastrukur telekomunikasi di luar pulau jawa (80 persen) dilakukan oleh satu operator telekomunikasi. “Pasar telekomunikasi seluler Indonesia saat ini dikuasai (market leader) oleh satu operator, yakni Telkomsel (sekitar 37 persen pangsa pasar). Di bawah Telkomsel terdapat dua operator, yakni Indosat Ooredoo (23 persen) dan XL Axiata (14 persen),” kata Agus.

Di bawah tiga operator tersebut terdapat empat operator lagi, seperti Ceria, 3 Hutchinson, Smartfren, dan Bakrie Telecom. Struktur pasar yang demikian mengakibatkan pasar telekomunikasi seluler bersifat oligopoli. “Struktur pasar demikian diiringi adanya keengganan untuk berbagi kapasitas (sharing capacity) dengan operator telekomunikasi lain, selain operator telekomunikasi dalam grupnya,” papar Agus.

Oleh karenanya, lanjut Agus, dalam struktur pasar yang oligopolis, dibutuhkan regulasi yang harus dapat mengatur persaingan usaha yang memastikan peningkatan manfaat bagi para pemangku kepentingannya. “Bagi masyarakat sebagai konsumen kepentingan terutamanya adalah tarif yang lebih murah dan layanan yang lebih baik. Bagi pemerintah, kepentingan utamanya adalah peningkatan peran industri telekomunikasi, terutama untuk kesatuan wilayah dan perekonomian,” kata dia.

Senada dengan Agus, anggota Wantiknas, Garuda Sugardo mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan revisi terhadap regulasi yang sudah tidak relevan. Serta kebijakan network sharing merupakan kebijakan yang tepat dan perlu didukung oleh pelaku industri Telko. “Jika tidak dilakukan, maka percepatan industri digital di Indonesia akan sulit terwujud,” kata Garuda Sugardo.
BS

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *