Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Neraca Perdagangan Nasional Surplus Tahun 2016

taufiqurokhman.com – Direktur Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pemulihan ekonomi negara maju yang masih melambat telah menekan pertumbuhan ekonomi secara global. Di tengah kelesuan ekonomi global tersebut, posisi Indonesia sebagai negara berkembang masih cukup baik karena perekonomian nasional mampu tumbuh mencapai 50,2 persen pada triwulan III tahun 2016.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III tahun 2016 dinyatakan lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat ini disebabkan pertumbuhan industri pengolahan migas yang tidak lagi minus seperti pada 2015 lalu.

Pernyataan itu disampaikan Achmad saat memberikan kuliah umum pada mahasiswa program Pascasarjana Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (08/2). Dalam agenda yang bertema ‘Peluang dan Tantangan Industri di Era MEA’ itu Sigit memaparkan tentang kinerja ekonomi industri di Indonesia serta strategi-strategi untuk meningkatkan daya saing nasional.

Berdasarkan data dari BPS Kementerian Perindustrian, Sigit mengatakan tahun 2016 lalu neraca perdagangan nasional surplus sebesar 6,8 juta dolar AS. “Total ekspor nasional 144,3 juta dolar AS, sedangkan total impornya 137,5 juta dolar AS. Berarti neraca perdagangan kita surplus 6,8 juta dolar AS,” ujar Sigit dalam rilisnya yang dikirim ke media massa, Kamis (9/2/2017).

Dari total surplus 6,8 juta dolar AS tersebut, 1,5 juta dolar AS diperoleh dari nilai ekpor-impor industri pengolahan non-migas. Sigit juga mengungkapkan pada tahun 2016 lalu, daya saing nasional Indonesia telah menempati peringkat 19 dari 40 negara teratas di Global Manufacturing Competitiveness Index (GMCI). Sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan akan naik ke peringkat 15.

Untuk meningkatkan daya saing tersebut, Sigit juga menyampaikan beberapa strategi, di antaranya meningkatkan nilai tambah Sumber Daya Alam (SDA), melakukan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui vokasi industri, melakukan pendalaman struktur industri melalui kekuatan rantai industri, serta mengembangkan wilayah industri. “Strategi seperti ini mudah-mudahan bisa membawa Indonesia ke peringkat yang lebih baik lagi,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah telah membangun 14 kawasan industri dengan pendekatan Indonesia sentris. Dalam waktu tiga tahun kedepan, pembangunan untuk tujuh kawasan industri Tanjung Boton (Riau), Dumai (Riau), Berau (Kaltim),Tanah Kuning (Kaltara), JIIPE (Jatim), Kendal (Jateng), dan Serang (Banten) akan dipercepat. “Pembangunan ini dilakukan dalam rangka mengurangi kesenjangan sekaligus upaya mengembangkan wilayah industri mulai dari pinggiran,” tegas Sigit.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *