Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Menyulap Biji Salak Jadi Kopi Nikmat

taufiqurokhman.com (Malang) – Limbah tak selamanya tidak memiliki manfaat sama sekali. Seperti halnya biji salak yang dijadikan salah satu inspirasi Nuril Anwar dalam menciptakan kopi dari bahan tersebut. Pemilik Produksi Q-Ecco Nuril Anwar menjelaskan, olahan kripik salak merupakan salah satu usaha yang telah didirikannya sejak 2013.

Melihat begitu banyak biji salak yang tak terpakai membuatnya berpikir untuk mengolah kembali. “Karena kita dasarnya orang teknik, kita mikirnya bagaimana menciptakan sebuah inovasi dari limbah seperti biji salak,” kata Nuril saat di Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, Kota Malang, Minggu (15/10). Saat mendapatkan inspirasi dan ide tersebut, Nuril langsung saja mengecek apakah biji salak dapat dikonsumsi.

Dia pun mulai bekerja sama dengan Politeknik di Jember untuk menganalisis kemanfaatan biji salak bagi kesehatan. Hasilnya tidak saja dapat dikonsumsi tapi memiliki kegunaan bagi kesehatan tubuh. Menurut Nuril, produksi kopi biji salak ini dapat menyehatkan pinggang. Kemudian berkhasiat juga untuk lambung dan ketahanan tubuh. Dari khasiat ini, Nuril beruntung mendapatkan respon yang cukup baik dari masyarakat sekitar terutama di Jember, Jawa Timur.

Kopi BijiAdapun untuk menciptakan itu, dia hanya perlu memotong biji salak seukuran kopi pada umumnya. Kemudian menuangkan air untuk mencucinya agar getah yang terkandung menghilang. Lalu dijemur di bawah matahari sekitar dua sampai tiga hari hingga mengering. “Terus kita sangrai dan hancurkan dalam bentuk seperti bubuk kopi,” terang pria yang kini berusia 44 tahun ini.

Dalam sebulan, Nuril dan sembilan pegawainya setidaknya dapat menghasilkan 50 kilogram bubuk kopi dari biji salak. Dengan harga Rp 15 ribu per 100 gram, dia setidaknya bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 90 juta setiap bulannya. “Dan itu modalnya sangat murah karena kita ambil dari limbah produksi kripik salak kami,” ujar lulusan Institut Teknologi Adhi Utama Surabaya ini.

Sejak 2014, produk kopi biji salak Nuril tidak saja menguasai penjualan di Jember tapi di Bali juga. Ke depan, dia berencana dapat memasarkannya hingga ke luar Pulau Jawa maupun luar negeri. Namun yang paling penting, dia sedang berusaha untuk dapat lolos dari proses Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terlebih dahulu. “Kita paten sudah dan BPOM masih berlangsung karena itu prosesnya panjang,” tambah putera daerah Jember ini.

Di sisi lain, Nuril juga menambahkan sedang meneliti kulit ari salak bersama Politeknik Jember. Upaya ini dilakukan agar bagian tersebut nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan untuk masyarakat. “Ya, kita tinggal kulit arinya saja ini lagi penelitian,” tegasnya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *