Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Mengenal Kota Daegu, The New Wuhan yang Jadi Endemi Virus Corona

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China merupakan wilayah yang selama ini dikenal sebagai wilayah endemi virus corona atau 2019-nCov atau yang belakangan disebut COVID-19. Sejak itu, virus mematikan melanglang buana, merambah lima benua di seluruh dunia.

Hampir seluruh negara melaporkan ada warganya yang terpapar virus yang awalnya diduga berasal dari hewan kelelawar buah tersebut. Meski tak banyak, namun ada saja korban yang berjatuhan setiap hari sejak awal COVID-19 ini merebak akhir tahun 2019 lalu.

Tentu saja hal itu membuat jumlah korban terus bertambah dan ketika berita ini diturunkan sudah mencapai lebih dari 2.500 orang dari seluruh dunia.

Berita paling mengejutkan datang dari Korea Selatan. Betapa tidak, pemikiran bahwa hanya Wuhan sebagai kota endemi penyebaran virus ini, kenyataannya Kota Daegu, Korea Selatan kini disebut sebagai the New Wuhan. Di kota terbesar keempat di Negeri Ginseng setelah Seoul, Busan, dan Incheon tersebut lebih dari 400 orang terpapar COVID-19.

Akibatmnya, kota berpopulasi 2,5 juta orang itu, mendadak menjadi seperti kota hantu karena Pemerintah Korea Selatan langsung mengambil tindakan, mengisolasi Kota Daegu dari wilayah-wilayah di sekitarnya.

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan pun mengimbau seluruh warga negara Indonesia tidak mengunjungi Kota Daegu jika berwisata ke Korsel. Mengingat Kota Daegu memang punya beberapa daerah wisata andalan.

Nama Daegu sendiri dalam bahasa Indonesia bisa diartikan Bukit Besar. Mencerminkan namanya, Daegu terletak di basin yang dikelilingi pegunungan, yakni Palgong-san di utara, Biseul-san di selatan, kaki bukit Gaya-san di barat, dan satu deretan bukit kecil di timur.

Tak hanya gunung, kota seluas 884,15 kilometer persegi ini juga diapit aliran sungai Geumho dan Nakdong. Iklim di Daegu pun terbilang teduh dan hanya berjarak sekitar 278 kilometer dari tenggara Ibu Kota Seoul sehingga banyak turis berwisata ke kota tersebut.

Salah satu destinasi wisata paling terkenal adalah batu Buddha yang disebut Gatbawi di puncak Gwanbong. Selain itu, ada pula Palgong-san yang terkenal dengan batu gat, berbentuk seperti topi tradisional Korea Selatan.

Orang-orang dari seluruh penjuru negeri mengunjungi tempat itu karena mereka percaya bahwa Buddha akan mengabulkan keinginan yang dipanjatkan di tempat tersebut.

Daegu masuk ke dalam kategori provinsi di Korea Selatan, yang dipimpin oleh Wali Kota Kim Bum-il. Kota metropolitan ini sempat menjadi pusat perekonomian Negeri Ginseng, dan terkenal dengan industri elektroniknya pada medio 1960-an hingga 1980-an. Namun saat ini, industri utama Daegu adalah tekstil, logam, dan mesin.

Kualitas apel yang dikembangkan di Daegu juga sudah dikenal di wilayah Asia Timur. Daegu bahkan mendapat julukan layaknya Malang, yakni Kota Apel karena buah apel yang berlimpah dan berkualitas.

Kota ini juga semakin terkenal setelah sempat menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2002. Daegu juga merupakan pusat lalu lintas kereta api pedalaman Korea. Jalur kereta api utama yang melintasi daerah ini adalah Gyeongbu Line.

Stasiun kereta api terbesar di kota itu, Stasiun Dongdaegu, merupakan tempat lalu lintas penumpang terbesar kedua di Korsel setelah Stasiun Seoul.

Akses ke daerah itu juga mudah karena ada kereta cepat dari Seoul ke Busan yang melewati Daegu dengan durasi perjalanan hanya sekitar 1 jam. Tak hanya kereta, Daegu juga bisa diakses dengan kendaraan bermotor dan pesawat terbang dari dalam maupun luar Korsel.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *