Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Menanti Sikap Tegas Kejakgung

Oleh: Dr. Taufiqurokhman, M.Si

 

aksi-super-damai3
taufiqurokhman.com – Belum lama ini saya mendapat sebaran tulisan di media sosial oleh politikus terkemuka Tifatul Sembiring yang di bawah tulisan tersebut tertanda nama ulama besar Indonesia, Tulisan Buya Hamka. Tulisan itu singkat saja:

Tuan janganlah heran jika umat ini mencintai Qur’an lebih daripada mencintai hidupnya sendiri. Sebab kami hina dan hidup kami gelap gulita kalau bukan karena Qur’an.

Tuan jangan pula heran mengapa bangsa ini mencintai Qur’an, sebab Qur’an-lah yang mengajari kami akan harkat dan martabat kami sebagai manusia, Qur’an pula yang mengajari kami untuk mencintai perdamaian dan mencintai kemerdekaan lebih dari apa pun.

Tuan, jika bukan karena rakyat yang di hatinya bersemayam Al-Qur’an, maka niscaya masih ada warna biru di bendera negeri ini.

Tulisan Buya HAMKA

Meski singkat, tulisan ini sangat menggelitik lubuk hati paling dalam saya dan mungkin juga banyak orang yang sempat membacanya. Saya tahu, tulisan ini hanya satu dari ribuan atau mungkin jutaan tulisan motivasi umat Islam yang ayat Al-Qur’an-nya sudah dinistakan. Akibat tulisan-tulisan bernada motivasi inilah pula yang membuat semangat di dalam dada sebagian besar Muslim Indonesia menggebu-gebu untuk turun ke lokasi yang sudah ditentukan dan pada waktu yang juga sudah ditentukan.

Pada Aksi Damai I jumlah umat yang hadir mungkin dianggap masih segelintir. Akibatnya, ‘sang penista’ masih tetap melenggang manis tanpa merasa berdosa. Aksi Damai II pada 4/11 lalu jumlah umat Muslim yang hadir di Jakarta akhirnya mampu membuat satu keputusan untuk menetapkan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok sebagai tersangka penista agama. Meski berstatus demikian, Polri memilih tidak menahan Ahok. “Belum menetapkan langkah penahanan,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (16/11/2016).

Alasannya, Tito memaparkan, sejauh ini Ahok dinilai kooperatif dalam menjalani penyelidikan. “Saat akan dipanggil, yang bersangkutan datang sendiri memberikan klarifikasi. Saat dipanggil yang bersangkutan hadir. Jadi, kecil kemungkinan yang bersangkutan melarikan diri. Namun untuk antisipasi, penyidik melakukan pencekalan. Soal kekhawatiran tersangka menghilangkan barang bukti, barang bukti sudah disita,” kata Tito sambil menjelaskan alasan lain Ahok tidak ditahan adalah penyelidik yakin Ahok tidak akan mengulangi perbuatannya. Tidak lupa, Tito juga mengimbau agar masyarakat menghormati proses hukum dan tidak mudah terpancing dengan pihak-pihak yang mendesak Ahok untuk ditahan.

Diakui atau tidak, sikap Kapolri Tito Karnavian yang memutuskan untuk tidak menahan Ahok bisa jadi adalah pemicu utama Aksi Super Damai III digelar. Jumlah massanya? Jangan ditanya, karena foto-foto yang beredar di media sosial, baik yang diambil secara manual, dipotret dari gedung-gedung bertingkat, hingga yang menggunakan drone (pesawat tanpa awak) mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan cepat, tegas, dan jelas. Bahkan ada beberapa netizen yang menyebut, Aksi Damai II Seperti Towaf dan Aksi Super Damai III seperti Wukuf di Arofah. Kalau Ahok tidak juga ditahan, maka berikutnya adalah Lontar Jumroh. Komentar kecil, namun menggelitik dan menohok.

Hal yang jauh lebih menyentuh perasaan saya bukan ratusan, ribuan, atau jutaan tweet, komentar, atau quote bernada motivasi seperti Tulisan Buya Hamka yang di-share oleh Tifathul Sembiring yang ditulis pada awal tulisan ini, melainkan tekad bulat masyarakat dan santri dari Ciamis yang rela berjalan kaki menuju Jakarta untuk mengikuti Aksi Super Damai 212. Apakah mereka bermotivasi politik, ingin mengalahkan Ahok pada Pilkada DKI? Tentu saja tidak, karena mereka orang Ciamis, Jawa Barat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pilkada DKI Jakarta.

Lalu apakah mereka dibayar Rp500 ribu seperti yang pernah dituduhkan oleh Ahok pada massa Aksi Damai II 4/11. Saya pikir sudah pasti tidak, karena jauhnya luar biasa dan tidak sepadan hanya dibayar Rp500 ribu. Lantas, apa motivasi mereka hingga tidak peduli lelah, peluh, dan darah yang mengucur dari tubuh mereka. Jauh di lubuk hati, saya hanya menemukan satu jawaban, yakni cinta. Cinta terhadap Agama Islam yang mereka anut. Mereka bahkan tidak peduli dengan hujan, panas, bahkan badai.

Saya yakin, mereka pun tidak peduli pada pemerintah yang mulai terlihat sangat panik dengan gejala-gejala seperti, penyebaran brosur lewat helikopter yang berisi imbauan agar tidak ikut Aksi Super Damai 212, menyebarluaskan isu makar, dan menyuruh kita mencari dalangnya di Google, membid’ahkan shalat Jumat di jalan raya, melarang secara terang-terangan warga untuk ikut aksi 212, mengancam pemilik angkutan umum agar tidak mengangkut para peserta aksi dari luar Jakarta, mengirim surat ke pesantren-pesantren agar tidak ikut aksi 212, dan masih banyak lagi tindakan aneh lainnya. Mereka (para Mujahid Ciamis) tidak peduli.

Belum Pernah Ada Penista Agama yang Lolos dari Jerat Hukum
Berkas kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama sudah masuk tahap P21 alias sudah lengkap dan sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Namun demikian, Kejaksaan memutuskan tak menahan Ahok dengan penjelasan Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung M. Rum, Ahok tak ditahan karena beberapa pertimbangan. Pertama, bahwa penyidik sudah melakukan pencekalan dan sampai saat ini berlaku. Rum juga menjelaskan, sesuai SOP yang ada, apa bila penyidik Polri tidak menahan tersangka, kejasaan pun akan bersikap sama. Ketiga, jaksa peneliti memutuskan bahwa Ahok tak perlu ditahan lantaran kooperatif. Alasan keempat, jaksa menyusun dakwaan kasus Ahok dengan pasal alternatif. Pasal pertama adalah Pasal 156 a KUHP yang ancaman hukuman lima tahun penjara. Sementara itu, pasal kedua adalah Pasal 156 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Saat ini, jaksa menjadi pihak yang ditugasi masyarakat melalui negara untuk melakukan penuntutan terhadap seorang terdakwa. Tugas jaksa adalah meyakinkan hakim bahwa terdakwa memang bersalah dan layak mendapat hukuman. Di pengadilan, jaksa menjadi alat yang mewakili rakyat untuk menuntut seseorang yang melanggar hukum. Menurut saya, jaksa harus serius, profesional dan bekerja keras untuk membuktikan seorang terdakwa mendapat hukuman sesuai dengan pelanggaran hukum yang dilakukannya.

Fenomena ‘Ahok’ menurut saya seperti bola salju yang semakin digulirkan akan semakin membesar yang mampu menabrak apa saja yang dilewatinya. Mulai dari ucapan Ahok di Kepulauan Seribu hingga darah yang mengucur dari kaki para santri dan masyarakat Ciamis membuat hati saya tergetar dan tidak hendak hanya menonton melalui layar kaca atau memantau lewat media sosial. Rasa cinta yang teramat besar kepada keyakinan membuat saya turut ambil bagian melangkah ke Monas bersama jutaan ummat Muslim lainnya.

Saya dan umat peserta Aksi Super Damai III berharap, kehadiran Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Menkopolhukam Wiranto, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, akan membawa aura positif bagi penegakan hukum di Indonesia. Jangan ada tebang pilih, jangan sampai hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas seperti yang sudah terlihat indikasinya beberapa bulan belakangan yang menyebabkan Aksi Damai umat Islam ini sampai dibuat berjilid.

Kehadiran Jokowi, wakil, dan para pembantunya tersebut diharapkan bisa menunjukkan keseriuasan pemerintah terhadap fenomena Ahok yang diam-diam menunjukkan indikasi akan lolos karena dukungan super kuat di belakangnya. Sajauh yang saya tahu, belum pernah ada seorang penista agama di negeri ini yang pernah lolos dari jerat hukum. Inilah memotivasi saya untuk turut ambil bagian dalam Aksi Super Damai III di Monas. Kini, saya dan umat Islam Indonesia menanti sikap tegas Kejakgung untuk menuntut Ahok agar mau mempertanggungjawabkan perbuatannya di dalam penjara.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *