Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

MEMBENTUK KESADARAN IDEALISME DAN NALAR KRITIS MAHASISWA (oleh Dr. Taufiqurokhman, M.Si.)

Kesadaran adalah kemampuan memahami setiap kejadian di lingkungan sekitar dan kemampuan untuk menceritakan serta mengekspresikan apa yang di dalam pikirannya. Kesadaran ini akan membawa pada kemampuan untuk mencari, menemukan dan memberi makna setiap kejadian serta tindakan yang dilakukan. Sedangkan Idealisme merupakan kebenaran tertinggi berupa nilai-nilai Ideal yang ada pada nurani manusia mengenai berbagai aspek kehidupan. Dan Nalar Kritis merupakan kepekaan terhadap relasi politik kekuasaan dan kapital bahkan pengetahuan dalam membedah kondisi sosial-politik, keadilan dan lainnya.

Terbentuknya kesadaran Idealisme dan Nalar Kritis Mahasiswa akan membuat mahasiswa menjadi manusia yang memiliki semangat perubahan dalam dirinya, dimana semangat perubahan itu bertumpu pada aspek kognisinya dalam mengintepretasikan realitas yang ia lihat. Dengan menggunakan pisau analisisnya, mahasiswa dapat melihat realitas jauh lebih dalam dari pada orang-orang awam kebanyakan sehingga kemungkinan bagi mahasiswa untuk mencari akar permasalahanpun lebih terbuka lebar.

Akan tetapi aspek kognisi dari seorang mahasiswa belumlah cukup untuk melihat sebuah realitas dalam masyarakat, yang diperlukan seorang mahasiswa dan yang paling penting adalah kesadaran akan tujuan yang ingin dicapai (consciousness). Dengan adanya kesadaran yang dimiliki oleh mahasiswa maka pengetahuan yang dimilikinya pun digunakan dengan sebuah kesadaran untuk melakukan perubahan.

Mahasiswa kalau boleh saya klasifikasikan maka tempat mereka adalah di barisan para intelektual. Mahasiswa adalah kaum dimana berkumpulnya aspek kognisi dan kesadaran. Dan lebih jauh lagi berani saya katakan bahwa mahasiswa adalah kandidat besar untuk menempatkan diri dalam posisi intelektual organik. Oleh sebab itu sudah sewajarnya mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP merupakan gambaran bagaimana seorang HMI memahami Islam sebagaimana tercantum dalam Al-Quran. Secara doktrin, yang terkandung dalam NDP bukanlah ajaran yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan formulasi kembali atas Al-Quran sehingga tertuang menjadi suatu kepribadian bagi kader HMI dalam mewujudkan amanat Tuhan sebagai khalifah fil-ardhi.

NDP adalah landasan ideologis perjuangan HMI, sebagai ruh yang mendorong moral pergerakan kader. Pemahaman terhadap NDP diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri kader akan keyakinan ilahiahnya, membangun semangat humanisme dalam interaksi dengan sesama manusia, dan sebagai sumber nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi kemanusiaan. Dengan demikian nilai-nilai NDP bisa menjadi identitas yang khas bagi kader-kader HMI.

Secara garis besar, ada tujuh persoalan yang dibahas dalam NDP. 1) Dasar-dasar Kepercayaan; 2) Pengertian-pengertian Dasar tentang Kemanusiaan; 3) Kemerdekaan Manusia (ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir); 4) Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan; 5) Individu dan Masyarakat; 6) Keadilan Sosial dan Ekonomi; 7) Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. Ketujuh persoalan itu secara sederhana dapat diintisarikan dalam tiga kata: iman, ilmu, amal.

Dengan integrasi iman, ilmu, dan amal itulah manusia akan mampu memenuhi kodratnya, yaitu sebagai hamba di hadapan Tuhan dan sebagai khalifah di hadapan alam. Cita-cita ideal HMI kiranya tertuang dalam NDP tersebut. menjadi manusia kreatif yang mampu berinovasi dalam kerja-kerja nyata demi mempertinggi harkat kemanusiaan (amal saleh); disertai ilmu sebagai alat untuk melakukan itu; dan tentu saja dilandasi oleh iman yang benar.

Aktualisasi NDP merupakan suatu wujud usaha penerapan nilai-nilai yang ada dalam NDP, sebagai individu ataupun sebagai masyarakat. Dimana setiap individu dengan kemerdekaannya tidak bisa lepas dari sebuah kehidupan yang bernama masyarakat. Setiap kader HMI harus menyadari bahwa dirinya mempunyai tangggungjawab yang harus dia jalankan sesuai dengan status dan peranannya. Kesadaran inilah yang nantinya akan membawa setiap kader HMI pada pemenuhan status, fungsi, dan peranannya sebagai kader organisasi, kader masyarakat, kader umat, dan kader bangsa.

Melalui Aktualisasi NDP, Kesadaran akan Idealisme dan Nalar Kritis Mahasiswa dapat terbentuk dengan baik. Hingga Idealisme yang dibentuk dengan aktualisasi NDP merupakan Idealisme yang santun serta dapat membentuk suatu civil society yang madani dan mewujudkan Insan HMI yang Beriman, Beramal, dan Berilmu (Insan Cita). Harapan yang lebih penting lagi adalah bahwasanya melalui Idealisme dan Nalar Kritis yang teraktualisasi melalui Nilai Dasar Perjuangan (NDP), maka Kader HMI harus dapat menjadi Mahasiswa yang dapat merubah pola pergerakan mahasiswa dari gerakan yang berbasis moral semata menuju ke sebuah pola gerakan sosial yang tetap berbasiskan kepada moral dan intelektual.

Dengan begitu gerakan kader HMI tetap terintegrasikan dalam sebuah gerakan masyarakat yang lebih besar, bersinergi dengan gerakan-gerakan sosial lain dan tujuan yang ingin dicapai dapat tercapai dengan sebuah gerakan yang massif terkoordinir dan tidak terpecah-pecah seperti yang terjadi dengan gerakan mahasiswa sekarang, baik hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan mahasiswa lainnya maupun hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan masyarakat lainnya.

Kader HMI jangan menjadi mahasiswa yang terperangkap dalam dunia idealismenya sendiri, hingga terperangkap dalam dunia ideal yang dibangunnya. Dimana dunia itu sama sekali tidak memiliki relevansi dengan kondisi riil masyarakatnya. Dan yang lebih parah lagi terkadang idealisme itu sama sekali tidak ter-ejawantahkan dan termanifestasikan dalam realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan tidak adanya jembatan yang menghubungkan alam idealitas menuju alam realitas. Jembatan yang paling ampuh untuk mengejawantahkan idealisme ini tak lain adalah gerakan sosial yang tersistemik dan terprogram.

Kader HMI harus mampu mengkomunikasikan sebuah idealisme yang secara murni tak dapat diterima oleh masyarakat, tetapi melalui penerapan idealisme praktis, yaitu melalui gerakan-gerakan sosial yang dilakukan, maka kader HMI dapat mengkomunikasikan cita-cita yang diusungnya tanpa adanya resistensi dari masyarakat.

Sudah seharusnya mahasiswa menggunakan metode ini dalam mengkomunikasikan idealisme yang dimilikinya. Jangan sampai idealisme yang dimiliki mahasiswa hanya terealisasi dalam bentuk-bentuk demonstrasi yang tidak sistemik dan tanpa arah tujuan yang jelas. Gerakan mahasiswa HMI harus mengakomodir idealisme praktis dan bertransformasi kedalam bentuk gerakan sosial yang berbasis pada moralitas dan intelektualitas.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *