Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Lempar Sege Festival Lembah Baliem Pecahkan Rekor Dunia

taufiqurokhman.com (Jayawijaya) – Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) telah diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya sejak 1989. FBLB tahun ini adalah penyelenggarakan ke-28 dan tetap menjadi festival budaya tertua di Indonesia. Pada FBLB, wisatawan bisa menonton karapan babi, lomba permainan alat musik Pikon, lempar sege, hingga atraksi utama yakni tari perang-perangan. Ini merupakan aksi teatrikal yang menceritakan sejarah perjalanan Suku Hubula di masa lalu.

Sejak pembukaan pada Selasa (8/8/2017), FBLB langsung bergelora dan sudah dua rekor yang dipecahkan. Kegiatan lempar sege yang dilakukan dalam festival itu mampu memecahkan rekor Indonesia dan dunia. Keduanya untuk pelemparan lebih dari 1.359 sege. Sepanjang 28 kali perhelatan FBLB, baru kali ini acara pelemparan sege dilakukan. Tidak hanya peserta laki-laki dari warga setempat yang dilibatkan, tetapi wisatawan juga ikut berpartisipasi dalam pemecahan dua rekor itu.

Sebanyak 1.359 lelaki membawa batang kayu panjang yang ujungnya runcing. Semuanya ikut lempar. Semua bersorak gembira. Bukit-bukit di sekitar Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua, tempat FBLB dihelat, bergema oleh sorakan ribuan orang yang ikut disambut sekitar 50 ribu wisatawan yang ikut menyaksikan. Apalagi, lemparan sege (sebutan kayu panjang nan runcing) tadi memecahkan dua rekor sekaligus.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo, berharap, dengan adanya pencatatan rekor tersebut, sege makin dikenal masyarakat Indonesia dan wisatawan asing. Mengenalkan kebudayaan memang salah satu misi FBLB. ”FBLB tahun depan pasti ada yang baru lagi,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/8/2017).

Lempar Sege 1Sege sendiri merupakan salah satu senjata perang yang terbuat dari kayu hutan. Kayunya bisa jenis apa saja. Yang penting, syaratnya harus memiliki panjang sekitar 2,5 meter dan harus lurus. Diameternya pun tak bisa lebih dari 5 hingga 7 sentimeter. Biasanya kayu diberi cat warna hitam. Di beberapa suku, ada yang dihias dengan warna putih atau merah. Kadang juga diberi racun untuk membunuh buruan. Namun, di FBLB semua tombak dicat hitam. Selain itu, ujungnya tidak begitu runcing dan tidak ada racunnya. Aksi lempar tombak tersebut harus dilakukan laki-laki. Pihak perempuan hanya menunggu dari luar area. ”Biasanya memang sege ini digunakan untuk laki-laki. Perempuan biasanya mengurusi dapur,” kata Alpius.

Tantangannya datang dari jumlah pelempar sege. Dari 14 distrik yang tampil, lelakinya tidak mencapai 1.000 orang. Akhirnya, pada detik-detik akhir, panitia memutuskan untuk melibatkan wisatawan. Ternyata, hasilnya bisa lebih dari 1.000 orang. Pelemparan Sege ini masuk rekor Indonesia dengan nomor 3344/ORI/Agustus/2017 yang ditandatangani Agung Elvianto dan World Record Holders Republic (RHR) yang bermarkas di London. Catatan rekor itu dianugerahkan kepada Pemerintah Jayawijaya atas prestasi kreator prosesi lempar 1.000 tombak tradisional (sege) secara serentak.

Lempar Sege 3Kegiatan FBLB yang berlangsung di Distrik Welesi itu akan berlangsung selama empat hari, terhitung sejak 8 hingga 11 Agustus. Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Hari Untoro Drajat, berterima kasih kepada Bupati Jayawijaya yang telah menyelenggarakan acara ini. Menurut dia, ada nilai–nilai budaya masyarakat yang masih dipertahankan hingga saat ini. “Dalam 28 tahun pelaksanaan FBLB, ini sudah merupakan event besar dan juga sebagai event nasional, sedangkan dari sisi ekonomi juga bisa mengangkat ekonomi masyarakat sehingga event ini bisa mewujudkan apa yang diharapkan pemerintah pusat,” kata Hari.

Bupati Jayawijaya, Jhon Wempi Wetipo, berharap FBLB yang mengangkat Seni Perang dan Tari ini bisa menjadi momen untuk mempertahankan nilai-nilai budaya luhur yang telah diturunkan oleh leluhur. “Ini festival tahunan, tentunya bisa di lestarikan oleh generasi muda yang ada di tanah ini,” kata Jhon. Dan jangan lupa, Lembah Baliem sendiri menjadi spot foto yang sangat ciamik. Lembah ini dikelilingi Pegunungan Jayawijaya, dan menyuguhkan lanskap yang indah. Tak heran tiap tahunnya, Festival Budaya Lembah Baliem menjadi tujuan fotografer dari berbagai belahan dunia.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *