Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Larangan Perdagangan Gading di Cina Mampukah Selamatkan Gajah

taufiqurokhman.com (Beijing) – Liu Fenghai menghimpun kekayaan dari perdagangan gading gajah dan ada masanya dia mempekerjakan 25 pengrajin di pabrik gadingnya di Harbin. Dia membeli gading kasar dan dipoles menjadi liontin, pemberat kertas, maupun patung yang memenuhi rak di toko gadingya. Ada juga ukiran gading dalam ukuran besar yang dipajang. Pada masa puncak perdagangan gading, beberapa produk di tokonya bisa terjual sampai beberapa ribu dolar Amerika atau belasan jutaan rupiah.

Akan tetapi, pemerintah Cina mulai menerapkan larangan perdagangan gading yang ‘brutal dan berdarah ini’ dan disambut baik oleh para pegiat lingkungan. “Saya merasa tidak baik sama sekali. Tradisi ini sudah berlangsung ribuan tahun dan kini akan mati di tangan generasi kami. Saya merasa seperti berbuat dosa. Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat ini sebagai dosa sejarah,” jelas Liu sedih.

ivory3Walau ukiran gading memang bisa dilacak sampai beberapa abad lalu di Cina, sebenarnya merupakan seni dengan pasar yang amat terbatas dan Cina -pada masa lalu- tidak pernah menjadi pemain utama dalam perdagangan gading dunia. Sepanjang abad 19 dan 20, pembunuhan gajah secara besar-besaran untuk mendapatkan gadingnya dilakukan oleh kekuatan kolonial Eropa dan belakangan oleh para pengusaha Amerika Utara.

Kebutuhan di dunia Barat untuk ukiran gading, perhiasan, tuts piano, dan bola biliar telah menyebabkan anjloknya populasi gajah dari 20 juta ekor pada tahun 1800-an menjadi hanya dua juta tahun 1960. Kedatangan kekuatan ekonomi Jepang pada masa 1970 hingga 1980 ikut meningkatkan perburuan gajah sehingga membuatnya terancam punah. Baru pada tahun 1989, ketika diperlakukan larangan perdagangan gading gajah internasional, satwa ini bisa bernafas lega.

Namun kembali pula muncul perekonomian baru dunia yang juga ikut mengancam ketenangan perlindungan atas gajah.Kemakmuran yang meningkat -dipadu dengan korupsi dan kolusi kapitalis di dalam Partai Komunis Cina- membuat gading gajah menjadi barang yang bernilai sebagai pajangan dari ‘kebesaran, keberhasilan, dan sebagai hadiah khusus.’

Hanya dalam beberapa tahun saja seni mengukir gading berkembang menjadi industri di Cina, yang diperkirakan menyerap 70% dari total perdagangan gading global. Akibat perburuan gading, gajah pun kembali terancam punah dengan perkiraan saat ini kurang dari setengah juta gajah yang masih tersisa di alam liar Afrika. Jumlah itu membuat ada kemungkinan bahwa gajah sebagai satwa liar tidak akan ada lagi dalam waktu satu dekade mendatang.

ivory4Jadi, jika Liu yakin bahwa kehilangan seni kuno sebagai dosa, maka bagaimana pula dosa dari hilangnya satu spesies kuno di bumi demi produk massal gading -yang sebagian dikerjakan dengan mesin- untuk dijual di toko-toko Cina. Pemerintah Cina sudah memutuskan sisi yang mana yang mereka pilih. Pekan lalu, hingga Jumat (31/03/2017), hampir setengah dari pabrik dan toko gading yang mendapat izin pemerintah akan ditutup untuk selamanya. Satu tim dari CITES -badan PBB yang mengatur perdagangan satwa yang terancam punah- akan menyaksikan langsung penutupan pabrik dan toko gading. Sebanyak 34 pabrik dan 138 toko gading lainnya akan ditutup pada akhir tahun.

Penutupan pabrik dan toko pekan lalu jelas merupakan lambang penting, yang menurut para pegiat akan mengubah situasi, dan tokoh yang paling terkenal dalam upaya ini, Pangeran William, secara terbuka memuji langkah pemerintah Cina sebagai ‘komitmen penting’. Mungkin ada sedikit ironi, mengingat nenek moyang pangeran yang pernah berperan meningkatkan perdagangan gading dan lebih 1.000 produk gading masih masuk dalam koleksi Kerajaan Inggris.

Namun jelas bahwa penutupan pabrik dan toko gading di Cina merupakan hal yang penting, apalagi bisnis gading yang resmi yang mendapat izin sering menjadi ‘topeng’ dari perdagangan gelap gading yang skalanya lebih besar. Cadangan gading untuk Cina. Pada tahun 2008, berdasarkan sistem CITES, Cina diizinkan untuk membeli 62 ton cadangan gading Afrika yang disita. Teorinya adalah bahwa dengan pengawasan yang hati-hati dan sistem sertifikat maka cadangan akan bisa memberi pasokan yang terkendali untuk pabrik-pabrik di Cina sehingga menghapus perdagangan gelap lewat mempertahankan harga yang murah, berhubung ada stok.

Dalam kenyataannya, cadangan itu tampaknya memicu tuntutan yang lebih besar karena para pembeli seperti mendapat ‘lampu hijau’ untuk membeli produk-produk gading. Dengan penerapan hukum yang buruk, korupsi, dan sertifikat palsu, maka sejumlah besar gading yang diperoleh lewat perburuan gelap gajah masuk ke Cina. Parahnya lagi, sebagian masuk secara diam-diam ke cadangan yang sudah disahkan CITES tadi.

Permintaan pun makin meningkat, juga harganya -walau awalnya diharapkan cadangan akan mengendalikan harga tetap murah. Penelitian memperlihatkan bahwa cadangan gelap gading di Cina saat ini mungkin mencapai 1.000 ton atau lebih, jauh lebih tinggi dari jumlah yang diatur tahun 2008 lalu. Larangan yang diterapkan pemerintah Cina -yang juga didukung beberapa faktor lainnya, seperti perlambatan perekonomian Cina dan larangan pemberian hadiah untuk para pejabat- jelas akan membantu upaya menghentikan perdagangan gading.

Para produsen, penjual, dan pembeli akan mendapat pesan yang kuat bahwa ‘permainan’ sudah berakhir dan harga gading belakangan ini mulai menurun lagi, dari US$2.000/kg atau sekitar Rp26 juta tahun 2014 menjadi US$700/kg atau RP9 juta saat ini. Bagaimanapun tetap ada pertanyaan besar.

Memicu Pasar Gelap
Sama seperti di pasar-pasar lain, termasuk Inggris, pengumuman di Cina tampaknya akan memungkinkan berlanjutnya pasar barang-barang gading antik, yang dikhawatirkan akan menjadi celah. Sementara pihak berwenang Cina tidak mengatakan apa yang akan dilakukan atas cadangan gading yang sah dan bagaimana pula cara mencegahnya masuk ke pasar gelap.

Ivory1Di sisi lain, muncul juga pertanyaan tentang pengawasan dan penegakan hukum atas pasar gelap, karena ada kemungkinan aparat keamanan tidak terlalu bersemangat untuk mengatasi perdagangan gelap satwa liar. Selama dua dekade, misalnya, perdagangan cula badak dilarang total di Cina. Undang-undang menetapkan penjualan, pembelian, pengangkutan, dan pengiriman cula badak diancam hukuman yang berat dengan ancaman maksimal hukuman seumur hidup.

Namun dengan pencarian cepat di intenet, bisa ditemukan para pedagang yang menawarkan cula badak yang utuh, atau yang sudah diolah jadi perhiasan, maupun untuk obat-obatan. Risiko menjual dan membeli cula badak tampaknya menjadi kecil, tidak seperti yang diatur undang-undang. “Percayalah, saya tidak pernah menghadapi masalah sebelumnya,” kata seorang penjual di internet setelah mengirim kepada kami gambar kalung yang terbuat dari cula badak.

 

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *