Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Kacang Tanah Ternyata Bisa Kurangi Risiko Batu Empedu

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Gurih dan renyah, kacang tanah selalu jadi kudapan nikmat saat bersantai. Tak hanya dimakan sebagai camilan, kacang tanah juga digunakan sebagai bahan baku beberapa jenis masakan seperti gado-gado, ketoprak, karedok hingga tahu campur. Para ahli menyebut, bahwa kacang tanah mengandung banyak komponen nutrisi yang baik bagi tubuh, salah satunya lemak nabati yang dipercaya mampu menyerap kolesterol dalam tubuh.

Meski menjanjikan manfaat bagi tubuh, namun sayangnya banyak masyarakat yang enggan mengonsumsi kacang tanah karena rumor yang beredar menyebut konsumsi kacang tanah sebabkan jerawat, meningkatkan berat badan, hingga menimbulkan reaksi alergi, benarkah? Pakar Gizi klinis Dr. Dian Permatasari, SpGK, M.Gizi. mengungkap mitos dan fakta seputar kacang tanah.

Sebabkan Jerawat?
“Mitos. Justru dari makanan tidak terlalu berpengaruh. Sebabnya banyak, bisa karena hormonal, atau soal kebersihan wajah yang sebabkan peradangan,” ujarnya dalam tayangan AYO HIDUP SEHAT Jumat 23 Maret 2018.

Kacang Sebabkan Asam Urat?
“Mitos. Purin kacang tanah tidak sebanyak purin pada daging atau seafood. Jadi aman bagi penderita asam urat sekalipun.”

Bikin Gemuk?
“Mitos. Justru sebaliknya, kacang bisa mempertahankan berat badan, karena tinggi serat dan memiliki lemak baik.”

Turunkan Kolesterol
“Fakta. Lemak kacang itu tak jenuh, dan baik bagi tubuh.”

Kacang Tanah Sebabkan Alergi
“Fakta. Memang ada protein yang memicu alergi, namun kasusnya tidak banyak. Alergi kacang biasanya faktor keturunan.”

Kurangi Risiko Batu Empedu
“Fakta. Sudah ada penelitiannya kalau konsumsi kacang tanah 5 kali seminggu sebanyak 48 gram (kurang lebih 4 sendok makan) akan terhindar dari risiko batu empedu hingga 25 persen.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *