Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Indahnya Panorama Danau Sentani

taufiqurokhman.com (Jayapura) – Awalnya perjalanan sekitar enam atau tujuh jam terasa begitu lama. Tercatat empat kali pesawat take off-landing sebelum benar-benar mendarat dan menurunkan para penumpangnya. Akan tetapi, sesaat sebelum mendarat, pemandangan pantai yang jernih terhampar diselingi hamparan hijau tanah pebukitan yang mahaluas seperti memulihkan rasa lelah di perjalanan tadi. Saat hendak mendarat di bandara manapun di Indonesia, sulit untuk menemukan pemandangan seperti ini, tak juga di Pulau Dewata, Bali.

Lebih memikat lagi, tak sampai lima belas atau dua puluh menit keluar dari bandara, panorama alam yang indah dan asli danau Sentani sudah tersuguhkan di depan mata. Di danau ini, dengan mudah terlihat adanya beberapa bangau dan elang yang akan menyambar seekor ikan. Danau Sentani terletak pada elevasi sekitar 76 km di atas permukaan laut di selatan kota Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura. Danau ini dikelilingi oleh perkampungan penduduk pribumi yang sebagian besar hidup dari budidaya ikan untuk konsumsi sendiri dan pertanian.

Istilah Sentani disebut pertama kali dalam tahun 1896 oleh GL Bink, seorang pendeta. Suatu ketika Bink bersama pemandunya melintasi perbukitan dekat perbatasan wilayah adat antara Nafri Tobati dan Sentani Timur. Orang Sentani Timur menunjuk ke arah suatu tempat di dataran rendah tepian danau yang indah berkilau memantulkan cahaya matahari tengah hari dengan menyatakan kepada orang Nafri dalam bahasa mereka, Heram Ndane — di atas tempat ini kami tinggal. Pembicaraan ini direkam oleh Bink yang mengeja menjadi Sentani.

Batuan Gabro
Sentani dalamDi dalam Danau Sentani terdapat area batuan gabro dan serpetin yang sangat luas. Pebukitan barat dan selatan danau terdiri dari sebagian besar batu gamping, batu pasir dan batu gunung api. Debit air yang masuk ke danau ini sekitar 20 ribu liter per detik sama dengan jumlah debit air yang keluar dari danau Sentani melalui Sungai Jaifuri ke Sungai Skamto dan Tami yang bermuara ke Lautan Pasifik.

Wilayah perairan Danau Sentani memiliki sekitar 21 pulau berukuran kecil dan sedang. Beberapa di antaranya berpenghuni sebagai suatu kesatuan ekosistem dengan daya tarik yang khas. Komunitas asli melaksanakan aktivitas hidupnya secara subsistence di kampung-kampung. Setidaknya terdapat 26 kampung asli dengan jumlah penduduk rata-rata 950 orang per kampung yang menyebar di sekitar Danau Sentani dan beberapa pulau di tengah danau: Asei, Ajau, Yobeh, Kensio, Puyoh atau Putali, Atami, dan Yonokom.

Tiga pulau — Asei, Ajau dan Yonokom — sangat menonjol sebagai pusat cerita sejarah pertumbuhan kekuasaan pemerintahan adat tradisional dan penyebaran komunitas sosial budaya. Juga terdapat tempat pembuatan alat-alat rumah tangga yang masih sederhana untuk kebutuhan asli dalam jumlah kecil, seperti kerajinan gerabah di kampung Abar yang pada zaman sebelum persentuhan peradaban industri modern masih merupakan pusat produksi peralatan masak dari tanah liat merah. Pengungkapan ide seni khas Papua yang diwujudkan melalui tari dan nyanyian, lukisan pada lembar kulit kayu dan ukiran tiang kayu diproduksi secara terbatas di kampung Asei Besar, Hobong (di pulau Ajau) dan Babrongko.

Secara alami Danau Sentani memiliki aneka ragam hayati sebagai potensi daya tarik wisata. Tumbuhan air (mikrofit) banyak ditemukan, di antaranya lumut air, rumput pita, enceng gondok, kiparas, kangkung air, keladi air, apu-apu, rumput ikan, teratai, dan gulma itik. Lima hingga 10 persen luas perairan di tutupi tumbuhan air, tumbuhan mengapung, terutama enceng gondok.

Terdapat 29 spesies ikan, 10 spesies di antaranya merupakan ikan introduksi dari luar. Empat jenis ikan asli masih dominan di perairan Danau Sentani, seperti gabus/humen, gete-gete dan hewu. Ikan hiu gergaji yang pernah hidup di Danau Sentani, kini tinggal cerita masa lalu. Sedangkan pula ikan kakap yang terkenal dalam legenda terjadinya danau Sentani sebagai ikan yowi, hampir punah.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *