Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

IKM di Cirebon dan Indramayu Gulung Tikar Akibat Stok Garam Langka

taufiqurokhman.com (Cirebon) – Puluhan industri kecil menengah (IKM) yang bergerak di bidang pengolahan garam di Kabupaten Cirebon dan Indramayu gulung tikar menyusul kelangkaan bahan baku garam di tingkat petani akibat anomali cuaca sepanjang tahun 2016. “Pasokan garam saat ini masih langka,” ujar Ketua Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik, Rabu (5/7/2017).

Taufik menyebutkan, akibat kelangkaan garam itu, saat ini ada sekitar 25 IKM berbasis garam di Kabupaten Cirebon sudah gulung tikar. Sedangkan di Kabupaten Indramayu, sedikitnya ada dua pelaku IKM pengasinan ikan yang juga sudah tidak lagi berproduksi.

Menurut Taufik, kelangkaan garam telah terjadi sejak 2016 lalu. Kondisi tersebut menyusul adanya fenomena La Nina pada musim kemarau 2016 yang menyebabkan curah hujan tinggi meski sudah musim kemarau. Kondisi itupun diperparah karena pada pertengahan 2017 petani garam di Jabar kembali mengalami gangguan cuaca regional. Akibatnya, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih kerap terjadi meski sudah masuk musim kemarau.

Sea Salt dalamTaufik menyebutkan, dalam kondisi normal, produksi garam di Cirebon dan Indramayu mencapai 550 ribu ton per tahun. Namun, kemarau basah yang terjadi sepanjang 2016 membuat produksi garam petani hampir nol. Meski PT Garam Persero mengimpor garam sebanyak 75 ribu ton, tetapi IKM di Kabupaten Cirebon dan Indramayu sulit mendapatkannya. Pasalnya, untuk bisa mengakses garam impor dari PT Garam, kuotanya dibatasi hanya sepuluh ton per IKM dan dengan persyaratan yang cukup rumit.

Salah satunya, syarat legalitas yang harus dimiliki IKM pengolahan garam. Padahal, IKM dengan karyawan 10-20 orang jarang yang memiliki legalitas seperti layaknya perusahaan skala besar. Akibatnya, IKM yang bergerak di bidang pengolahan garam di kedua daerah tersebut tidak lagi bisa beroperasi hingga sekarang.

Sementara itu, pemilik pabrik garam di Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Sujati, mengaku biasanya mendapatkan pasokan garam dari pengepul untuk produksi garam meja dan garam kotak miliknya. Namun, karena stok garam di tingkat petani kosong, maka dirinya tak bisa lagi berproduksi. “Saya terpaksa merumahkan 25 orang pekerja,” kata Sujati.

Sujati mengakui saat ini ada garam yang dijual eceran dengan harga berkisar Rp 3.300 – Rp 4.000 per kg. Namun, harga itu sangat tidak wajar dan akan membuat modal yang dikeluarkannya tidak sebanding dengan harga jual garam meja dan garam kotak miliknya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *