Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Harus Dibawa Pakai Freezer, Berapa Sebenarnya Suhu untuk Menyimpan Vaksin COVID-19?

taufiqurokhman.com (Jakarta) – Menyimpan vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 hingga bisa didistribusikan ke banyak daerah, ternyata tidak sembarangan. Vaksin salah satu benda cair yang bisa rusak kalau proses menyimpannya tidak tepat.

Vaksin harus selalu dalam kondisi suhu dingin. Karena itu, vaksin perlu disimpan di lemari es maupun kotak pendingin yang awet.

Dilansir dari laman sehatnegeriku, keberhasilan program imunisasi tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan rantai dingin (cold chain) hingga ke Puskesmas. Hal ini diupayakan agar mampu menjaga serta menjamin kualitas vaksin yang diberikan kepada sasaran.

Rantai dingin atau cold chain terdiri dari lemari es dan freeze untuk menyimpan vaksin. Termos (vaksin carrier) untuk membawa vaksin ke tempat pelayanan imunisasi, terutama untuk kegiatan di luar gedung atau lapangan.

“Dengan rantai dingin yang standar kualitasnya baik, kualitas vaksin yang diberikan akan tetap terjaga”, tulis website resmi Kementerian Kesehatan itu.

Di dalam Permenkes Nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi disebutkan bahwa vaksin merupakan produk biologis yang mudah rusak sehingga harus disimpan pada suhu tertentu, yakni pada suhu 2 s.d 8ºC untuk vaksin sensitif beku (tidak boleh beku), dan pada suhu -15 s.d -25 ºC untuk vaksin yang sensitif panas.

Dijelaskan Ellies Kiswoto dari Technoplast, untuk penyimpanan vaksin COVID-19, saat ini sudah menggunakan standar teknologi Internet on Things (IoT) yang digagas Telkom, pada Insulated Vaccine Carrier (IVC). Pengiriman vaksin kemana saja bisa dipantau dan dicatat secara real-time.

“Vaksin merupakan produk biologis yang mudah rusak. Maka penggunaan teknologi pada boks vaksin mampu menekan resiko pengiriman vaksin,” ujar Ellies.

Sementara itu, Kemenkes menyebut ada tiga prosedur penyimpanan vaksin COVID-19. Suhu penyimpanan minus 20 derajat Celcius (vaksin mRNA, Moderna), suhu minus 70 derajat Celcius (vaksin mRNA, Pfizer), dan suhu 2-8 derajat Celcius (termasuk vaksin Sinovac, Sinopharm, Astrazeneca dan Novavax).

Edi Witjara dari Telkom menambahkan, selama pengiriman vaksin, pergerakan suhu secara sistematis sangat diperlukan. Data ini akan menjamin parameter kualitas vaksin tetap baik sesuai ketentuan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

“Sehingga mampu menjaga stabilitas suhu 2-8 derajat celcius selama 48 jam,” ucapnya.

Dengan penyimpanan yang tepat, tentu memudahkan pemangku kepentingan dalam memantau suhu, serta menjaga kualitas vaksin agar terdistribusi dengan baik sesuai efikasinya.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *