Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Guru Dinilai Belum Merdeka dalam Berfikir

taufiqurokhman.com – Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo Sitepu menyebut guru di Indonesia tidak mempunyai kemerdekaan dalam berfikir. “Kebijakan, budi pekerti, pelibatan masyarakat, bentuk kemerdekaan. Intinya guru tak ada kemerdekaan berpikir,” kata dia dalam diskusi Gathering Media Sosial di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta, Senin (6/3/2017).

Henny menjabarkan, salah satu buktinya adalah banyak pelajar di daerah terpencil yang dengan mudah menguasai komputer dan internet. Bahkan, mereka lebih mahir mengoperasikan teknologi informasi dibandingkan gurunya. Hal itu disebabkan, anak-anak tidak mempunyai rasa takut bertanya, sementara guru punya rasa sungkan. “Banyak hal yang menghambat guru. Dari dirinya sendiri, bukan luar,” ujar dia.

Henny menjelaskan, budi pekerti tentang kemerdekaan berpikir, menghargai sesama, dan kesetaraan adalah wujud dari kebinekaan. Sehingga, kebinekaan tak bisa ditolak dan diingkari. “Budi pekerti bicara tentang penghargaan, kemerdekaan berpikir. Menghargai setiap manusia, bisa kerja sama dengan apapun latar belakangnya, sangat penting,” kata Henny.

Ia mengingatkan, guru mempunyai tanggung jawab menyiapkan pelajar abad 21 yang kritis, kreatifitas, mampu berkomunikasi dengan baik, mudah bekerja sama. Menurutnya, para guru harus memahami bahwa bahan ajar ada di lingkungan sekitar.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *