Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Banda Neira, Surga Lain di Timur Indonesia

taufiqurokhman.com – Banda Neira merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Banda yang termasuk dalam Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Berbagai literature menyebutkan, Banda Neira atau yang kerap disebut Bandanaira, telah terkenal sejak berabad-abad lalu. Mengutip laman bandanaira.net, Kepulauan Banda yang termasuk di dalamnya Banda Neira, pada abada ke-16 dan ke-17, diperebutkan oleh Spanyol, Portugis, dan Inggris.

Disebutkan juga, hingga akhir abad ke-18, Banda Neira merupakan pusat monopoli rempah pertama di Nusantara. Rempah-rempah khas Banda seperti pala, fuli, dan cengkih. Tak ayal, masih menurut laman yang sama, pulau inilah awal sengketa antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau kamar dagang Hindia Timur Belanda) dan Portugis yang dikabarkan hingga 60 tahun. Literature yang lain seolah menambahkan, Banda Neira dikenal sebagai sumber utama rempah-rempah bernilai tinggi hingga medio abad ke-19.

Jejak kehadiran sejumlah negara Eropa di Banda Neira masih tertinggal hingga kini. Memasukan dalam ketegori wisata sejarah, Bandanaira.net mencatat terdapat Benteng Nassau (yang dibangun oleh Portugis 1529 kemudian dilanjutkan oleh Belanda pada 1608). Meski kini tidak utuh lagi, terdapat juga Benteng Colombo yang dibangun Belanda pada abad ke-18. Benteng ini berfungsi sebagai benteng pengawas lalu lintas kapal perdagangan Belanda.

Selanjutnya, Benteng Belgica yang disebut sebagai The Pentagon of Indonesia. Dibangun oleh VOC pada 1611 atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both. Benteng yang dibangun untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala VOC kala itu, masih berdiri kokoh nan lengkap hingga kini.

Terdapat juga Istana Mini Banda atau Rumah Kediaman Gubernur Jenderal VOC yang dibangun pada 1622.Tidak hanya itu, masih terdapat sejumlah jejak sejarah berupa bangunan yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan Banda Neira di mana menurut catatan pecintawisata dalam laman wordpress-nya; Gereja Tua Banda Neira (1600) serta sejumlah rumah tua.

Sejumlah rumah peninggalan bangsa Eropa kala itu, dijadikan rumah pengasingan bagi Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tjipto Mangkunsumo, dan Iwa Kusuma Sumantri. Tempat pengasingan empat tokoh perjuangan di mana hak-hak mereka dijarah kala itu, kini menjadi bagian dalam wisata sejarah Banda Neira. Segala peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang dipakai sebut saja mesin tik yang dipakai Bung Hatta kala masa pengasingan 1939-1942, turut dipamerkan.

Banda NaeraTapi Banda Neira tidak saja soal rempah dan sisa jejak sejarah datangnya sejumlah bangsa Eropa ke Indonesia khususnya di pulau tersebut. Pulau yang berhadapan langsung dengan Gunung Api Banda ini juga memiliki pesona dari sisi keindahan alam wabil dunia bawah lautnya.

Tak ayal, dunia bawah laut Banda Neira dan keseluruhan Kepulauan Banda merupakan salah satu tujuan dalam daftar daerah yang ‘wajib’ dikunjungi bagi pemilik hobi diving atau sekadar snorkling. Laman sportourims menyebut setidaknya terdapat 30 titik penyelaman Batu Kapal, Pulau Hatta dan Lava Flow. Nah untuk bisa sampai ke Banda Neira, ada dua alternatif cara. Pertama, menggunakan pesawat terbang; Jakarta-Ambon, Ambon-Banda Neira; Kedua, kapal laut dari Jakarta langsung ke Banda Neira yang dilayani oleh Kapal Pelni atau masih via laut tapi dari Ambon menuju Banda Neira.

Agar bisa menikmati secara ‘utuh’ kekayaan sekaligus keindahan Banda Neira, baik darat maupun bawah lautnya sekaligus belajar dari pengalaman perjalanan lalu, saya menyarankan sebelum melakukan perjalanan cari tahu lebih dahulu perkiraan cuaca termasuk gelombang laut saat ingin berangkat Banda pun pada tanggal saat masih di sana.

Ada yang menyebut waktu terbaik ke Banda Neira seperti kata laman negerisendiri, adalah bulan April hingga Mei dan Oktober hingga November. Tapi kembali terlebih bagi penikmat menyelam, sebaiknya terus pantau laman informasi cuaca seperti yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Maka bukankah tidak berlebihan jika bagi saya, Kepulauan Banda wabil Banda Neira, adalah bagian dari kepingan surga di timur Nusantara. Wish, I was back in Banda Neira.

Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *