Subscribe to newsletter

Subscribe to the newsletter and you will know about latest events and activities. Podpisyvayse and you will not regret.

Akibat Pestisida, Produk Teh Indonesia Ditolak di Eropa

taufiqurokhman.com (Malang) – Pasar Eropa masih terus meragukan kualitas teh ekspor Indonesia. Penolakan terhadap produk teh Indonesia ini sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Pemblokiran yang dilakukannya membuat petani kecil, baik dari perusahaan swasta maupun negara di Indonesia semakin terus terancam keberadaannya. “Saya konsentrasi ke daun teh karena harga ekspornya mahal. Dan semenjak diblok oleh Eropa, nilai ekspor kita turun lebih dari 20 persen dari tahun lalu,” kata Direktur Pengaman Perdagangan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Padnyawati di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Selasa (21/11/2017).

Menurut Padnyawati, pengeksporan teh ke Eropa terhambat pada aspek kesehatannya. Mereka menilai, teh Indonesia mengandung senyawa antrakinon yang berasal dari residu pestisida. Senyawa ini sangat dilarang di pasar Eropa karena dianggap dapat memicu penyakit kanker. “Gara-gara itu petani kecil kita tidak bisa menjual teh dan nggak laku dijual,” kata dia.

Mendapat tuduhan itu, Padnyawati, pihaknya pun mulai mencari bukti ilmiah dengan merekrut para ahli, baik dari Kemendag maupun lembaga pendidikan Indonesia lainnya. Dari penelitian, Padnyawati tidak menampik teh Indonesia memang mengandung senyawa tersebut dengan ukuran yang sangat kecil. Saking kecilnya, dia yakin sekalipun diseduh ke air panas akan hilang sifat karsinogeniknya.

Hal yang menjadi masalah, kata dia, ada pada batasan maksimum takaran residu pestisida yang tak mampu dicapai Indonesia. Batas takaran 0,01 mg per kilogram sebenarnya tak terlalu mengganggu kesehatan manusia. Namun sayangnya, pasar Eropa masih berpengangan pada batasan yang tak bisa dipenuhi petani Indonesia itu.

Adapun mengenai identifikasi senyawa yang dianggap berbahaya itu, Padnyawati menyebutkan, ini berasal dari proses pengeringan dan pengasapan. Proses pengeringan yang menggunakan cara tradisional seperti kayu bakar membuat senyawa itu timbul. Atas situasi ini, pihaknya telah berusaha memperbaiki proses ini dengan menggunakan uap atau boiler. “Termasuk kita masih terus berjuang agar kadar residu pestisida ditingkatkan lagi,” tambah dia.

Post Author
admin123
Dr. Taufiqurokhman, M.Si adalah seorang mantan DPRD Banten yang saat ini bekerja sebagai dosen di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *